Stadion Kalegowa, Selasa sore. Latihan PSM Makassar berjalan, tapi ada yang hilang. Para pemain berlari dan berlatih taktik seperti biasa. Namun, dari pinggir lapangan, sosok yang biasa mengawasi dengan mata tajam itu tak nampak batang hidungnya. Tomas Trucha absen.
Secara administratif, pelatih asal Ceko itu masih tercatat sebagai pelatih kepala. Tapi ketidakhadirannya di sesi latihan penting ini seperti mengonfirmasi desas-desus yang sudah berembus kencang: masa depannya di klub mungkin benar-benar di ujung tanduk.
Yang memimpin latihan adalah Ahmad Amiruddin. Ia tak sendiri. Direktur Teknik Zulkifli Syukur ada di sampingnya, bersama Ronald Fagundes, pelatih fisik Celso Silva, dan pelatih kiper Raden Sabilillahi. Susunan ini bukan kebetulan. Ini adalah sebuah pesan.
Menurut sejumlah saksi, tanda-tanda perpisahan sebenarnya sudah terlihat beberapa pekan terakhir. Jarak antara Trucha dan dinamika tim kian menganga.
Setelah PSM tumbang 2-4 dari Persita Tangerang di Parepare, misalnya. Trucha juga tak muncul di konferensi pers. Amiruddin lagi-lagi yang maju. Suasana di Stadion Gelora BJ Habibie malam itu memang panas. Beberapa suporter yang kecewa mendatangi area ruang ganti, menuntut penjelasan.
“Mana Tomas Trucha? Kenapa sembunyi?” teriak salah seorang suporter, suaranya penuh kegeraman.
Insiden itu sepertinya menjadi titik balik. Trucha kemudian juga tidak terlihat mendampingi tim saat bertandang ke Ternate untuk menghadapi Malut United. PSM cuma dapat satu poin dari laga itu. Absennya pelatih di dua momen krusial jelas bukan hal yang normal.
Di sisi lain, manajemen tampaknya masih merapatkan barisan. Keputusan final belum diumumkan.
Ahmad Amiruddin sendiri, ketika ditanya, menyebut bahwa segala sesuatu masih dalam pembahasan internal. “Itu masih dirapatkan,” ujarnya. “Pengambilan keputusan tidak serta merta satu orang yang mengambil. Harus ada pertanggungjawaban bersama.”
Pernyataannya itu, meski diplomatis, justru memperkuat kesan bahwa roda perubahan sedang diputar. Dalam sepak bola, keheningan manajemen seringkali lebih berbicara daripada pernyataan resmi.
Sementara itu, kendali teknis praktis sudah beralih ke duet putra daerah: Ahmad Amiruddin dan Zulkifli Syukur. Keduanya bukan nama baru. Amiruddin, mantan striker PSM, sudah lama jadi bagian dari tubuh pelatih. Ia memahami betul karakter pemain dan kultur klub yang kental ini.
Zulkifli Syukur, bek kanan Timnas Indonesia masa lalu, membawa pengalaman dari Persela Lamongan dan skuat nasional U-23. Kehadiran mereka memberi nuansa lokal yang mungkin dibutuhkan untuk meredam gejolak.
Statistik, harus diakui, tidak berbohong. Posisi Trucha memang sulit dipertahankan. Coba lihat 15 laga terakhir PSM: cuma empat menang, dua seri, dan sisanya sembilan pertandingan berakhir dengan kekalahan. Performa buruk itu melorotkan Laskar Ayam Jantan dari Timur ke posisi ke-13 klasemen.
Bagi klub sekaliber PSM, itu jelas di bawah standar. Ancaman degradasi mungkin belum menghantui, tapi jaraknya dengan zona merah terlalu dekat untuk diabaikan. Manajemen pasti gelisah.
Sepak bola memang kejam. Ketika hasil tak kunjung membaik, pelatih selalu jadi kambing hitam pertama. Tapi bagi PSM, persoalannya lebih dalam dari sekadar ganti pelatih. Mereka seperti kehilangan arah, kehilangan identitas permainan yang dulu membuat mereka juara.
Duet Amiruddin dan Zulkifli kini berdiri di tengah pusaran itu. Apakah mereka hanya solusi darurat, atau justru awal dari babak baru? Waktu yang akan menjawab.
Sore itu di Kalegowa, angin berhembus pelan. Latihan usai, pemain berhamburan ke dalam. Satu pesan terasa menggantung jelas di udara: PSM sedang di persimpangan. Dan nasib Tomas Trucha, entah bagaimana, akan menjadi penentu arah belokan mereka.
Artikel Terkait
Veda Ega Pratama Start ke-17 di Moto3 Spanyol, Kenangan Comeback 2025 Jadi Modal
PSM Makassar Jadi Batu Sandungan Potensial bagi Persib di Perebutan Gelar Super League
Veda Ega Pratama Start ke-17 di Kualifikasi Moto3 Spanyol, Catat Waktu Lebih Cepat tapi Gagal Bersaing
Pemerintah Makassar Gelontorkan Rp350 Miliar untuk Stadion Untia, Target Rampung 2027