Kalau bicara soal persiapan generasi muda menghadapi dunia global, ada satu kegiatan yang menurut Calvin Khoe masih kurang mendapat perhatian. Dia adalah seorang peneliti Hubungan Internasional yang menyoroti soal Model United Nations, atau yang biasa kita dengar sebagai MUN. Simulasi sidang PBB ini, kata dia, seharusnya tidak cuma berputar di lingkungan kampus saja. "Harus lebih masif di tingkat SMA," ujarnya.
Memang, selama ini MUN sering dianggap eksklusif. Citranya melekat sebagai ajang untuk anak-anak berprestasi dengan bahasa Inggris yang sangat lancar. Ditambah lagi, pemberitaan media yang minim membuat kegiatan ini seperti tersembunyi, tidak sampai ke pengetahuan publik yang lebih luas.
"Yang pasti, pertama Model United Nation itu belum populer di Indonesia, mungkin jarang diliput di media. Jadi saya berharap Model United Nation itu harus lebih banyak bukan hanya di tingkatan universitas tapi harus di tingkatan SMA,"
Calvin menjelaskan hal itu pada suatu Jumat, tepatnya tanggal 23 Januari 2026. Baginya, MUN itu jauh lebih dari sekadar simulasi. Ia adalah paket lengkap pelatihan keterampilan.
Bayangkan, peserta diajak terjun langsung ke dalam simulasi diplomasi internasional. Mereka tidak cuma belajar berpidato di depan forum. Lebih dari itu, kemampuan analitis mereka diasah, menulis dengan struktur yang rapi, hingga seni bernegosiasi layaknya diplomat sungguhan. Jangan lupa, jaringan pertemanan baru juga terbangun di sana.
"Model United Nation itu mengasah empat skill plus satu kalau bahasa Inggris. Yang pertama dia belajar ngomong depan umum. Yang kedua dia belajar tentang membaca secara analytical secara structured. Terus yang ketiga, dia harus tahu cara nulis secara terstruktur. Yang berikutnya adalah belajar seni negosiasi. Plus satunya itu networking,"
Tentu saja, jalan untuk mewujudkan hal ini tidak mulus. Calvin mengakui ada tantangan nyata. Kendala paling klasik dan sering menghalangi adalah rasa minder. Banyak siswa yang langsung mundur karena merasa kemampuan bahasa Inggris mereka belum memadai. Padahal, menurut Calvin, justru di situlah tantangan sekaligus peluangnya.
Oleh karena itu, ia mendorong agar penyelenggaraan MUN harus lebih inklusif. Menjangkau berbagai jenis sekolah, negeri dan swasta, sekolah berbasis agama maupun umum. Ia ingin melihat komposisi yang lebih berimbang.
"Kalau buat saya kombinasinya harus 50/50 antara sekolah negeri dan sekolah internasional. Jadi saya tahu nih biasanya kalau MUN ini kan orang-orang enggak mau datang karena satu masalah bahasa Inggris, itu gap-nya. Tapi buat saya ini kesempatan juga untuk memperbanyak sekolah negeri untuk ikut,"
Artikel Terkait
Emak-emak Warung Depok Gagalkan Pencurian Saat Tertidur, Pelaku Diringkus Warga
Selebgram Lula Lahfah Meninggal Dunia di Apartemen Mewah Kebayoran
Tiga Hari Genangan, Warga Rawa Buaya Berjuang Usir Banjir
Dewan Perdamaian Gaza Trump Dinilai Abaikan Suara Palestina