Ahmad Khozinudin: SOP Adu Domba dan Pecah Belah dari Solo Terus Dijalankan
Advokat Ahmad Khozinudin bersikukuh. Ia dan timnya menolak mentah-mentah segala bentuk ajakan berdamai yang dinilainya cuma taktik untuk menghentikan perjuangan hukum soal dugaan ijazah palsu mantan Presiden Jokowi. Pernyataan keras ini muncul setelah tiga orang yang dijadikan tersangka Rizal Fadillah, Rustam Efendi, dan Kurnia Tri Royani menjalani pemeriksaan pada Kamis lalu.
Untungnya, ketiganya tak ditahan dan bisa pulang dengan selamat. Tapi, menurut Khozinudin, persoalan mendasar justru mengemuka setelah proses itu.
“Alhamdulillah, pemeriksaan selesai dan tidak ada penahanan. Namun, substansi pemeriksaan masih menyisakan banyak persoalan mendasar, terutama ketidakjelasan tempus dan locus delik,”
begitu bunyi keterangan tertulisnya yang dirilis Jumat (23/1/2026).
Intinya, penyidik dinilai gagal menjelaskan dengan rinci: peristiwa apa dan di mana tepatnya dugaan pidana itu terjadi. Padahal, para tersangka dijerat dengan pasal-pasal berat seperti pencemaran nama baik, penghinaan, sampai penyebaran kebencian lewat KUHP dan UU ITE. Di sisi lain, beberapa pertanyaan dari penyidik justru tak dijawab oleh para tersangka. Mereka keberatan secara hukum. Khozinudin menegaskan, tersangka punya hak penuh untuk memberikan keterangan secara bebas, termasuk mempertanyakan dasar hukum yang dipakai.
“Bahkan Bang Rizal Fadillah secara tegas mempersoalkan ketidakjelasan penerapan rezim KUHP baru dalam perkara ini,” ucapnya.
Lebih jauh, Khozinudin menduga ada pola yang lebih sistematis di balik semua ini. Ia menyebutnya “SOP Solo”, sebuah skenario yang menurutnya dirancang untuk mengadu domba dan memecah belah barisan mereka. Caranya? Dengan iming-iming. Ada tawaran penghentian perkara atau SP-3, tapi syaratnya harus menghentikan perjuangan.
Artikel Terkait
KPK Bongkar Dugaan Pemerasan Rp 50 Miliar untuk Jabatan Perangkat Desa di Pati
Pencabutan Izin Toba Pulp: Sinyal Politik Prabowo untuk Geng Jokowi?
Dugaan Proyek Fiktif, Dana Lender Rp 2,4 Triliun di PT DSI Tak Bisa Ditarik
Demokrasi dalam Cengkeraman: Kedaulatan Rakyat Dikaburkan oleh Permainan Elite