Banjir Daan Mogot, Gerobak Kayu Jadi Taksi Motor

- Jumat, 23 Januari 2026 | 15:18 WIB
Banjir Daan Mogot, Gerobak Kayu Jadi Taksi Motor

Alasannya jelas: air yang terlalu tinggi berisiko merusak mesin. “Itu kan tingginya sampai knalpot. Jadi kalau motor kemasukan air dari knalpot bisa bahaya, kak. Mogok,” ujarnya meyakinkan.

Hari itu saja, mereka sudah mengangkut 17 motor. Soal tarif, Fahri bilang harganya tidak kaku, tergantung jarak tempuh. Namun, rata-rata mereka mematok Rp 50 ribu sekali angkut.

“Tarifnya tergantung jarak. Kalau dari situ lurus terus itu bisa Rp 70-80 ribuan. Kalau dari sini ke stasiun situ Rp 40-50 ribuan,” jelasnya rinci. Uang hasil jerih payah itu kemudian dibagi rata di antara mereka.

“Iya, dibagi rata,” tegasnya.

Ia masih ingat betul rezeki besar saat banjir tahun lalu. “Kalau kemarin, tahun kemarin kita markir kak di situ, dibuka trotoarnya. Jadi dapet Rp 600 ribu,” ceritanya. “Enam orang. Seratus-seratus.”

Untuk banjir kali ini, Fahri memperkirakan penghasilan dua hari bisa menyamai angka itu. “Dua hari? Ya, Rp 600-700 ribu,” kira-kira.

Namun, kerja di tengah air kotor dan cuaca tak menentu punya risikonya sendiri. Fahri mengaku sudah mulai masuk angin. “Masuk angin, kak, tapi aman, masih kuat,” ucapnya sambil tersenyum.

Meski mendapat untung dari musibah banjir, Fahri punya pesan sederhana untuk semua. “Buat warga atau semuanya, jangan buang sampah sembarangan. Sudah itu aja,” pesannya ringkas.

Percakapan kami terpaksa terhenti. Dari kejauhan, seorang pengendara melambai. Fahri langsung bergegas, berlari kecil menuju gerobaknya. Ia dan kawan-kawannya kembali mendorong, menyeberangkan motor, mengisi hari libur dengan kerja keras yang ternyata juga membawa keceriaan.


Halaman:

Komentar