MBG vs McDonalds: Membandingkan Anggaran Negara dengan Laba Korporasi di Panggung Davos

- Jumat, 23 Januari 2026 | 13:20 WIB
MBG vs McDonalds: Membandingkan Anggaran Negara dengan Laba Korporasi di Panggung Davos

MBG, di sisi lain, bersifat monopoli. Tidak ada pesaing. Tidak ada gesekan pasar. Program ini bergerak dengan instruksi dan kucuran dana fiskal yang sangat masif. Anggaran ratusan triliun rupiah seperti yang diambil dari pos pendidikan bisa dialokasikan hanya dengan satu ketukan palu. Ini mobilisasi sumber daya, bukan pertumbuhan organik yang kompetitif.

3. Parameter Keberhasilan dan Biaya Peluang

McDonald's diukur dari efisiensi dan margin keuntungan. Sedangkan keberhasilan MBG seringkali hanya dilihat dari angka cakupan: berapa banyak porsi yang berhasil dibagikan. Tidak ada tekanan untuk mencari untung di sini.

Tapi ada satu hal krusial yang kerap terlupakan: opportunity cost atau biaya peluang.

Setiap rupiah dari pajak yang dialirkan deras ke MBG, adalah rupiah yang sebenarnya bisa digunakan untuk hal lain. Misalnya, memperbaiki gedung sekolah yang hampir roboh atau meningkatkan kesejahteraan guru. Membandingkan kecepatan "membakar" anggaran negara dengan akumulasi laba sebuah korporasi? Itu seperti mengabaikan prinsip dasar alokasi sumber daya yang efisien.

MBG mungkin bisa menambah jumlah porsi dengan cepat. Namun, tantangan sebenarnya justru ada di belakang layar: mengelola rantai pasok yang ramping dan menjaga kualitasnya tetap terkendali.

Intinya, tiga poin di atas sebenarnya sangat mendasar. Tapi coba ingat, pidato ini disampaikan di Davos di depan World Economic Forum. Hadirinnya adalah ekonom, peneliti, dan praktisi dari institusi-institusi terbaik dunia.

Di hadapan audiens yang sangat menjunjung tinggi prinsip teknokrasi dan stabilitas fiskal, retorika "lebih cepat dari McD" ini terdengar tidak tepat. Mirip gaya startup yang gegabah membakar uang investor. Bedanya, kali ini yang 'dibakar' adalah uang rakyat.

Jadi, bisa dibayangkan kan, ekspresi mereka yang mendengarnya?


Halaman:

Komentar