Keterangan Trump ini rupanya diamini sejumlah ahli. Setidaknya empat dokter gabungan dari ahli bedah dan penyakit dalam yang diwawancarai Reuters sepakat. Kemungkinan besar, aspirin memang berkontribusi pada memar yang terlihat mencolok itu.
Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya Trump terbuka soal dosis aspirin-nya. Awal bulan ini, dalam wawancara dengan Wall Street Journal, dia mengaku mengonsumsi aspirin harian melebihi anjuran dokter. Alasannya sederhana sekaligus khas: dia ingin "darah yang bagus dan encer mengalir melalui jantung saya."
Menariknya, ini juga bukan kali pertama memar di tangan Trump jadi bahan pembicaraan. Musim panas tahun lalu, Leavitt pernah bercanda bahwa memar-memar itu adalah hasil dari terlalu banyak bersalaman dengan pendukung. Kini, penjelasannya lebih teknis.
Usia memang jadi faktor yang selalu disorot. Trump tercatat sebagai orang tertua kedua yang pernah duduk di kursi kepresidenan AS, hanya didahului oleh Joe Biden. Persoalan kebugaran di usia senja selalu menjadi topik panas dalam politik Amerika.
Bahkan Biden sendiri, yang mengakhiri masa jabatannya di usia 82 tahun, memutuskan untuk tidak mencalonkan diri lagi pada 2024 di tengah berbagai pertanyaan mengenai stamina dan kesehatannya. Isu yang sama, dengan pemain yang berbeda, terus berulang.
Artikel Terkait
Setan Besar yang Mulai Memakan Sekutunya: Retakan Wibawa Amerika di Mata Dunia
Gus Ipul Dorong Penerima Bansos Jadi Pemilik Koperasi
Penyidik Bareskrim Geledah Kantor Dana Syariah Indonesia di SCBD
Banjir Setinggi Lutut Lumpuhkan Arus Daan Mogot, Kendaraan Terpaksa Putar Balik