Pemerintah lalu mengambil langkah tegas. Sejak 10 Januari, pembatasan internet diberlakukan. Boroujerdi meyakini langkah ini memutus jaringan koordinasi pihak asing. Situasi pun diklaim berangsur pulih, ditandai dengan unjuk rasa nasional pada 12 Januari yang diikuti jutaan orang menolak kekerasan.
Duka dan Kerusakan yang Tersisa
Dampak dari rentetan kekacauan itu tak main-main. Data kepolisian forensik Iran mencatat korban jiwa mencapai 3.117 orang. Dua pertiga di antaranya, kata Boroujerdi, adalah "yang mati syahid" aparatur negara dan warga biasa yang tak berdosa.
Kerusakan infrastruktur juga luas. Lebih dari 180 ambulans dan puluhan mobil pemadam kebakaran dirusak. Tak kurang dari 53 masjid, 26 bank, serta ratusan toko dan rumah warga jadi sasaran. Aparat berhasil menyita lebih dari 1.300 pucuk senjata dari kelompok bersenjata.
Ada insiden yang lebih mengerikan lagi. Boroujerdi menyebut ada penyerangan terhadap layanan darurat, bahkan eksekusi terhadap 11 korban luka yang sedang dievakuasi. Untuk mengenang semua korban, pemerintah menetapkan tiga hari berkabung nasional.
Di sisi lain, Boroujerdi mengutip hasil jajak pendapat. Lebih dari 70% masyarakat Iran, katanya, percaya krisis ini dipicu provokasi asing. Hanya sekitar 30% yang melihatnya sebagai persoalan ekonomi dalam negeri. "Mayoritas masyarakat menginginkan stabilitas dan menolak kekerasan," pungkasnya. Itu poin terakhir yang ingin ditekankan dalam paparannya.
Artikel Terkait
Purbaya Geram: Perusahaan Baja China Diduga Hina Indonesia dengan Pengemplangan Pajak
Barron Trump Selamatkan Nyawa Wanita dari Panggilan Video Mencekam
Sungai Cipedang Meluap, Sejumlah Kampung di Lebak Terendam Banjir
Kisah Kezia Syifa dan Sosok AI yang Mengabdi ke Militer AS