Di Davos, Swiss, Presiden Prabowo Subianto akhirnya menandatangani Piagam Dewan Perdamaian. Langkah ini sekaligus menegaskan komitmen Indonesia untuk bergabung dengan inisiatif yang digagas Presiden AS, Donald Trump, itu. Lantas, apa alasan di balik keputusan tersebut?
Menurut Prabowo, ini bukan sekadar soal keikutsertaan. Di tengah situasi yang pelik, ia melihat adanya sebuah peluang nyata. “Ini benar-benar peluang untuk mencapai perdamaian di Gaza,” ujarnya di Swiss, Kamis lalu.
Ia meyakini, lewat dewan yang diisi negara-negara yang punya niat baik, jalan menuju penyelesaian konflik Israel-Palestina bisa terbuka. “Siapa yang ingin perdamaian di situ, siapa yang ingin bantu rakyat Gaza, rakyat Palestina,” tutur Prabowo, merangkum semangat para anggota dewan.
Di sisi lain, Prabowo juga menyoroti kondisi di lapangan yang menurutnya mulai membaik. Penderitaan warga Gaza, katanya, sudah jauh berkurang. Gelombang bantuan kemanusiaan yang deras disebutnya telah memberikan efek yang signifikan.
“Penderitaan rakyat Gaza sudah berkurang, sangat berkurang. Bantuan-bantuan kemanusiaan begitu deras, begitu besar sudah masuk,” jelasnya.
Namun begitu, kondisi itu justru memantapkan tekadnya. Ia merasa Indonesia tidak boleh hanya berdiam. Keinginannya adalah agar negeri ini terlibat langsung, berkontribusi lebih nyata untuk membantu Palestina. “Saya sangat berharap Indonesia bisa ikut serta,” tekan Prabowo.
Pembentukan dewan ini sendiri disaksikan langsung oleh Prabowo di Davos. Dengan menandatangani piagamnya, Indonesia resmi mengambil peran dalam upaya kolektif yang digadang-gadang akan fokus pada penciptaan perdamaian di Gaza.
Artikel Terkait
Alex Marquez Menang di MotoGP Spanyol 2026 Usai Marc Marquez Jatuh, Bezzecchi Kokoh di Puncak Klasemen
Lebih 800 Alumni Unair Reuni di Jakarta, Hadirkan PADI Reborn hingga Bincang Strategis
Psikolog Ungkap Bahaya Merasionalkan Pelecehan: Tubuh Beri Sinyal, Jangan Diabaikan
IHSG Ambruk 3,38% ke 7.129, Analis Sebut Masih Rawan Koreksi