Gunungan sampah setinggi gedung 15 lantai itu tiba-tiba ambrol. Minggu siang (8/3/2026) di TPST Bantargebang, Bekasi, tumpukan sampah setinggi sekitar 50 meter di Zona IV longsor dan menimbun apa saja di bawahnya. Truk-truk yang sedang mengantri, warung-warung kecil, dan orang-orang di sekitarnya tak sempat menghindar. Akibatnya, 13 orang menjadi korban. Empat dinyatakan tewas, empat selamat, dan hingga berita ini ditulis lima lainnya masih hilang, terkubur di bawah material sampah.
Menurut sejumlah saksi, kejadiannya sangat mendadak. Eko Uban, anggota Damkar Kota Bekasi, mengonfirmasi kronologinya.
"Saat truk sampah antre mau buang sampah sekitar pukul 14.30 WIB, tiba-tiba tumpukan sampah longsor. Sopir yang antre untuk buang sampah langsung tertimbun. Masyarakat yang ada di warung ikut tertumpuk longsoran sampah,"
kata Eko, Minggu lalu.
Di sisi lain, respons pun datang dari Dedi Mulyadi. Gubernur Jawa Barat ini langsung menyinggung soal status pengelolaan lokasi tragedi.
"TPA ini merupakan tempat pembuangan sampahnya warga Jakarta yang dikelola oleh Pemprov Daerah Khusus Jakarta,"
ungkap Dedi lewat media sosial, Senin (9/3/2026). Pernyataannya jelas, menegaskan bahwa Bantargebang berada di bawah otoritas Pemprov DKI.
Ia lalu menyampaikan duka. "Dari peristiwa ini, ada empat orang meninggal dunia dan lima orang masih dalam pencarian," sambungnya. Tak lupa, doa untuk para korban ia sampaikan. "Semoga yang meninggal dunia diterima iman dan Islamnya, diampuni segala dosanya. Yang dalam pencarian semoga lekas ditemukan," tutur Dedi.
Namun begitu, harapannya juga tertuju ke masa depan. Ia berharap TPST Bantargebang bisa dikelola dengan lebih baik agar tragedi serupa tak terulang. Mantan Bupati Purwakarta itu juga mengajak semua pihak mengambil pelajaran. "Jadikan musibah ini sebagai pembelajaran agar kita senantiasa waspada. Musibah seringkali terjadi tanpa diduga," tutupnya.
Sementara di lapangan, upaya pencarian terus digenjot. Operasi evakuasi masuk hari kedua pada Senin pagi. Akhmad Rizkiansah, Kasi Ops Kantor SAR Jakarta, memaparkan skala pencarian yang masif.
"Untuk sampai pagi hari ini kami lakukan evakuasi pencarian hari kedua. Personil gabungan kurang lebih 336 orang dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, dan instansi lain. Kami fokus pada lima orang yang diduga masih hilang,"
jelas Rizkiansah di lokasi. Kelima korban hilang itu terdiri dari dua sopir truk dan tiga pemulung. Untuk membongkar tumpukan sampah raksasa itu, sekitar 15 unit ekskavator dikerahkan.
Hingga Senin pagi, angka korban belum berubah. "Total ada 13 korban. Empat selamat, empat meninggal dunia. Sisanya lima orang masih diupayakan evakuasi," rinci Akhmad. Suasana di Bantargebang masih tegang. Tim gabungan bekerja cepat, berharap bisa menemukan yang tersisa dalam kondisi selamat.
Artikel Terkait
Ketua Komisi B DPRD DKI Usul Tarif TransJakarta Naik Jadi Rp5.000
Pria Tak Dikenal Siram Cairan Merah ke Reza Pahlavi saat Acara di Berlin
Politik dan Agama Kembali Beririsan: Trump vs Paus di Tengah Konflik Iran
Polisi Tetapkan Syekh Ahmad Al Misry Tersangka Dugaan Pelecehan Santri, Sahroni Minta Hukuman Berat