Di tengah ributan toga dan sorak-sorai keluarga, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan pesan yang cukup tegas. Saat memberi sambutan dalam prosesi wisuda ITS Surabaya, Minggu lalu, ia tak cuma memberi selamat. Amran secara terbuka mengajak para lulusan baru itu untuk terjun dan jadi motor penggerak inovasi di sektor pertanian. Tantangannya jelas: ketahanan pangan global yang makin pelik.
Menurutnya, dunia saat ini sedang dihantam tiga krisis sekaligus: pangan, energi, dan air. Tapi di balik ancaman itu, Amran melihat peluang besar untuk Indonesia. Posisi kita strategis, asalkan bisa mandiri di ketiga sektor tadi.
“Kalau pangan, energi, dan air kita mandiri, tidak ada negara yang berani mengganggu Indonesia. Karena tiga hal ini adalah krisis global, dan solusinya ada di Indonesia,” tegasnya.
Ia lalu memaparkan sejumlah capaian yang menurutnya menggembirakan. Stok pangan nasional disebutnya sudah nyaris tembus 5 juta ton, melonjak jauh dari angka sebelumnya yang berkutat di 2,6 juta ton. Di sisi energi, pemerintah sedang gencar mendorong transisi ke biofuel berbasis sawit untuk tekan ketergantungan impor. Tak cuma itu, pengembangan bioetanol dari bahan seperti tebu dan jagung juga digeber.
“Dulu kita impor 5 juta ton solar. Insya Allah 1 Juli 2026 kita stop impor dan beralih ke biofuel dari produksi dalam negeri,” janjinya.
Di sinilah peran kampus seperti ITS dinilai krusial. Amran menyebut, perguruan tinggi harus jadi penghasil inovasi yang aplikatif, bukan cuma teori. Ia mengapresiasi ITS yang dianggap mampu merespons kebutuhan teknologi nasional dengan cepat.
“Setiap kami membutuhkan teknologi baru sesuai kebutuhan negara, ITS bisa langsung membuatnya. Ini luar biasa,” katanya.
Contoh nyatanya? Traktor listrik rakitan ITS. Alat ini disebut lebih murah harganya cuma separuh dari traktor konvensional dan tentu saja lebih hemat karena tak pakai solar. Kementan sendiri sudah memesan 10 unit untuk diuji coba. Selain traktor, pengembangan bensin sawit atau bio-gasoline juga sedang dikerjakan lewat kolaborasi dengan BUMN.
“Kita mulai dari skala kecil bersama PTPN IV, jika berhasil akan dikembangkan ke skala besar. Ini energi masa depan Indonesia, sehingga hak patennya harus dijaga,” tambah Amran.
Etanol, Target Terakhir yang Dikebut
Lebih lanjut, Mentan membeberkan peta jalan kemandirian nasional. Sektor pangan, klaimnya, sudah aman. Kemandirian energi lewat biofuel hampir tercapai. Bahkan produk protein hewani sudah mulai menembus pasar ekspor. Nah, tinggal satu yang masih perlu dikebut: etanol.
“Tinggal etanol yang kita percepat, dan solusinya ada di ITS,” ungkapnya.
Inovasi-inovasi seperti traktor listrik hingga bioetanol itu, bagi Amran, adalah bukti nyata kampus bisa menjawab tantangan riil di lapangan.
Sementara itu, dari sisi kampus, Rektor ITS Bambang Pramujati menjelaskan upayanya menyiapkan lulusan. Wisuda kali ini meluluskan 1.710 orang dari berbagai jenjang. Kunci utamanya, kata Bambang, adalah melibatkan industri sejak dini, mulai dari penyusunan kurikulum sampai program magang.
“Dengan keterlibatan industri, lulusan kami lebih mudah beradaptasi dan memahami kebutuhan dunia kerja,” ujarnya.
Ia menekankan, penelitian jangan berhenti di jurnal atau perpustakaan. Harus ada upaya serius untuk mentransformasikannya jadi produk yang bermanfaat bagi masyarakat. Kolaborasi dengan pemerintah, termasuk Kementan, adalah salah satu jalurnya.
“Penelitian tidak boleh berhenti di perpustakaan, tetapi harus menjadi solusi nyata bagi masyarakat,” jelas Bambang.
Mengakhiri sambutannya, Amran Sulaiman kembali menyemangati para wisudawan. Ajakannya sederhana tapi penuh gairah: mari berkolaborasi dan bekerja untuk bangsa.
“Ayo kita kolaborasi, kerja untuk Merah Putih. Tidak ada yang tidak bisa. Yang ada adalah sulit, dan itu pasti bisa kita taklukkan,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Bayern Munich Balas Gol Cepat Stuttgart dengan Amukan Tiga Gol
Menantu Tewaskan Mertua dengan Golok di Lampung Selatan
Rabiot Pecah Kebuntuan, AC Milan Bungkam Verona 1-0
Uya Kuya Laporkan Hoaks Kepemilikan 750 Dapur MBG ke Polda Metro Jaya