“Ambil contoh Kenny Xepher. Itu anak Indonesia, gajinya per bulan bisa Rp 5,8 miliar,” ujarnya disambut riuh rendah di ruang rapat.
“Lalu ada Matthew Whitemon, juga orang kita, gajinya Rp 5,2 miliar. Main game, loh! Gaji mereka dalam sebulan sudah mengalahkan gaji anggota dewan.”
Intinya, industri ini jangan lagi dipandang sebelah mata. Negara harus turun tangan membantu memberi kesempatan pada generasi muda untuk berkarya.
Menanggapi hal itu, Menekraf Riefky Harsya punya pandangan yang agak berbeda, meski tujuannya sama: membangun kekayaan intelektual lokal. Ia mengajak kita belajar dari kesuksesan franchise seperti Pokemon.
“Pokemon itu lahir dari video game di tahun 96,” jelas Riefky.
“Tapi nilai bisnisnya sekarang sudah mencapai 92 miliar dolar AS. Dan menariknya, penghasilan terbesarnya justru datang dari merchandise, bukan dari game-nya semata.”
Menurutnya, IP atau kekayaan intelektual itu bisa diciptakan dari berbagai produk digital, tidak melulu game. Contohnya sudah banyak: Hello Kitty, Marvel, Star Wars. Itulah yang ingin dicapai: menciptakan brand-brand kuat Indonesia yang lahir dari subsektor kreatif, baik yang berbasis desain, budaya, maupun teknologi digital.
“Merek-merek seperti itulah harapan kita ke depan,” tutup Riefky.
Rapat itu pun berakhir dengan satu poin jelas: ada lahan subur di industri kreatif yang masih belum sepenuhnya digarap. Tantangannya sekarang adalah bagaimana mewujudkannya.
Artikel Terkait
Jalan DI Pandjaitan Lumpuh, Pengendara Terjebak Banjir dan Macet Mencekam
Wali Kota Yogyakarta Siapkan Wamira untuk Kendalikan Harga Sembako di Kampung
Panglima TNI Serius Tinjau Kesiapan Prajurit dan Dukung Ketahanan Pangan di Garut
Izin 28 Perusahaan Dicabut, Tapi Operasi di Lapangan Masih Berjalan