Semuanya jadi makin rumit ketika sebuah tragedi cuma dibaca lewat angka-angka. Perbandingan persentase berapa yang terdampak dan berapa yang tidak sering dijadikan alat untuk menenangkan situasi. Pendekatan ini mungkin berguna untuk laporan administratif, tapi jelas tidak memadai secara etis. Dalam urusan keselamatan manusia, satu korban pun punya makna yang sangat besar. Angka takkan pernah bisa mewakili sepenuhnya rasa sakit, kecemasan, dan trauma jangka panjang yang harus ditanggung sebuah keluarga.
Parahnya, energi yang dihabiskan untuk membalas kritik kerap lebih besar daripada energi untuk membenahi akar masalah. Padahal, fungsi kritik itu sendiri seharusnya menjadi bagian dari mekanisme koreksi, agar kesalahan yang sama tidak terulang di masa depan.
Mengapa Koreksi Sulit Diterima (dan Ancaman yang Mengintai)
Memang, koreksi seringkali sulit diterima saat kekuasaan berada dalam posisi defensif. Loyalitas buta, kekhawatiran akan kehilangan jabatan, atau tekanan politik bisa membuat seseorang memilih jalan yang aman bagi dirinya sendiri, meski berisiko besar bagi banyak orang. Dalam situasi seperti ini, kepekaan terhadap penderitaan orang lain lambat laun terkikis, digantikan oleh rutinitas pembelaan diri yang kering.
Al-Qur’an memberi peringatan yang jauh lebih serius dari sekadar penilaian moral biasa. Ketika sebuah proses dijalankan tanpa moral responsibilitas ketika kesalahan dilakukan dengan sadar, dibiarkan berulang, bahkan dibenarkan lalu mengakibatkan penderitaan, terlebih pada anak-anak, maka itu disebut sebagai kezaliman yang mengundang azab nyata.
Azab itu tak selalu hadir sebagai bencana besar yang datang tiba-tiba. Seringkali ia muncul dalam bentuk yang kasatmata dan berlapis: sistem yang rusak, hilangnya keberkahan, hati yang mengeras, kepercayaan publik yang runtuh, serta lahirnya keputusan-keputusan keliru yang terus berulang. Inilah azab yang bekerja di dunia, sebagai peringatan agar kita kembali ke jalan yang benar, sebelum pertanggungjawaban yang lebih berat datang menanti.
Barangkali inilah persoalan paling sunyi sekaligus paling menentukan: saat kesalahan tak lagi melahirkan rasa bersalah, dan kekuasaan tak lagi merasa perlu berhenti sejenak untuk mendengar. Pada fase ini, yang salah terasa biasa saja. Yang mengingatkan dianggap mengganggu. Dan korban perlahan menghilang dari percakapan bukan karena mereka tidak ada, tapi karena suara mereka kalah oleh kebisingan pembelaan diri yang tak ada habisnya.
Menjaga Amanah, Menjaga Masa Depan
Refleksi ini bukan ajakan untuk saling menyalahkan. Ini lebih pada undangan untuk kembali ke inti dari amanah itu sendiri. Keselamatan manusia terutama anak-anak harus ditempatkan di atas segalanya, jauh melebihi kepentingan citra atau gengsi sebuah program.
Pengawasan yang kuat, standar yang jelas, penegakan yang adil, serta ruang bagi kritik yang aman; itulah prasyarat mutlak agar niat baik benar-benar berbuah menjadi kebaikan yang nyata.
Sebuah bangsa tidak akan melemah karena dikritik. Justru ia akan melemah ketika kritik itu tak lagi didengar. Kekuasaan juga tidak akan kehilangan wibawa karena mengakui kekurangannya. Sebaliknya, kepercayaan justru tumbuh dari keberanian untuk memperbaiki kesalahan.
Jika moral responsibilitas terus dikesampingkan, dan setiap koreksi diperlakukan layaknya ancaman, maka azab itu tidak lagi sekadar peringatan di dalam kitab suci. Ia akan menjadi kenyataan sosial pahit yang terpaksa kita saksikan dan alami bersama.
Artikel Terkait
Lubang Maut di Narogong: Kecelakaan Berulang di Tengah Upaya Warga
Hujan Deras Rendam Jakarta, Genangan di Sukabumi Selatan Capai 90 Sentimeter
Banjir Lumpuhkan DI Panjaitan, Contra Flow Diterapkan untuk Atasi Macet Parah
Hijab dan Seragam Loreng: Kisah Kezia Syifa, Prajurit AS dari Indonesia