Serangan Drone Guncang Pabrik Suriah, Gencatan Senjata Langsung Diuji

- Kamis, 22 Januari 2026 | 02:30 WIB
Serangan Drone Guncang Pabrik Suriah, Gencatan Senjata Langsung Diuji

Ledakan keras mengguncang sebuah pabrik di Provinsi Hasaka, Suriah. Menurut keterangan resmi dari Kementerian Pertahanan, serangan drone itu menewaskan tujuh tentara mereka di dalamnya. Pemerintah Suriah langsung menuding kelompok Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didominasi Kurdi sebagai pelakunya. Tudingan itu sekaligus disebut sebagai pelanggaran serius terhadap gencatan senjata yang baru saja disepakati.

“Ini adalah eskalasi berbahaya dan pelanggaran yang jelas,” begitu kutipan pernyataan militer Suriah, yang menyebut pabrik tersebut sebagai tempat penyimpanan senjata.

Namun begitu, pihak SDF membantah keras tuduhan itu. Mereka justru balik menuduh pasukan pemerintah yang telah melakukan serangkaian serangan sejak gencatan senjata berlaku. Lewat sebuah pernyataan, kelompok Kurdi itu menegaskan komitmen mereka terhadap kesepakatan damai. Jadi, saling tuduh pun terjadi.

Kesepakatan yang dimulai pada Minggu lalu itu sebenarnya cukup monumental. Intinya, ada gencatan senjata dan proses integrasi administrasi wilayah Kurdi ke dalam negara. Presiden Ahmed al-Sharaa dan pimpinan SDF Mazloum Abdi juga sepakat soal satu hal krusial: pemerintah akan mengambil alih tanggung jawab atas para tahanan ISIS yang selama ini ditahan oleh SDF.

Implementasinya terlihat pada Rabu kemarin. Seorang jurnalis AFP di lokasi melaporkan, tentara Suriah mulai memasuki kamp al-Hol yang luas itu setelah pasukan Kurdi mundur. Kamp tersebut dikenal sebagai tempat penampungan ribuan kerabat terduga ekstremis ISIS.

Di sisi lain, situasi keamanan di timur laut Suriah memang rumit. Ribuan tahanan yang diduga anggota ISIS, termasuk banyak warga negara Barat, masih mendekam di tujuh penjara yang dikelola Kurdi. Sementara itu, puluhan ribu anggota keluarga mereka hidup dalam kondisi memprihatinkan di kamp-kamp seperti al-Hol dan Roj. Peralihan tanggung jawab ini diharapkan bisa meredakan ketegangan, meski jalan menuju perdamaian tetap terjal.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar