Janji Semalam Menteri Keuangan Dikritik, Defisit APBN Dituding Jadi Biang Kerok Rupiah Melemah

- Rabu, 21 Januari 2026 | 16:00 WIB
Janji Semalam Menteri Keuangan Dikritik, Defisit APBN Dituding Jadi Biang Kerok Rupiah Melemah

Pernyataan Menteri Keuangan, Purba, yang mengklaim bisa menguatkan rupiah "dalam semalam" itu, ternyata bukannya meredakan suasana. Malah bikin banyak orang geleng-geleng kepala. Kritik pun berdatangan dari berbagai pihak.

Di sisi lain, ada satu suara yang cukup vokal datang dari akun X @Strategi_Bisnis. Analisisnya lugas dan langsung menohok ke akar persoalan.

Menurut akun tersebut, sikap sang menteri yang cenderung menyalahkan Bank Indonesia itu sendiri sudah kurang tepat. "Bapak ini makin lama makin ajaib. Beliau cenderung blaming BI (sikap yg jg tidak bijak)," tulisnya.

Padahal, faktor utama pelemahan rupiah sebenarnya terletak pada defisit APBN yang membengkak jauh di atas target. Dan urusan defisit ini, ya, jelas berada di bawah tanggung jawab Kementerian Keuangan. Soal disiplin fiskal, itu ranahnya.

"Arogan, koboi dan suka ngeles. Agak bahaya lama lama," tambahnya lagi, menyoroti gaya komunikasi yang dinilai bermasalah.

Memang, ada isu lain yang ikut memberatkan sentimen pasar, seperti kabar masuknya Thomas Djiwandono keponakan Prabowo ke jajaran BI. Isu ini dikhawatirkan bisa mengganggu independensi bank sentral. Namun begitu, @Strategi_Bisnis menegaskan bahwa kuncinya tetaplah defisit APBN.

"Kalau tahun ini tembus diatas 3% ya wasalam. Rupiah bisa ancur ke 18.000," begitu peringatannya. Saat ini, defisit berada di angka 2,9%. Tampaknya kecil, tapi pasar finansial itu tempatnya penuh kecemasan. Mereka akan mulai panik begitu angka itu melampaui batas psikologis 3%.

Lalu, dari mana sumber defisit ini? Sederhana saja. Di satu sisi, anggaran belanja negara terbilang jumbo. Di sisi lain, pendapatan pajak justru tak sesuai harapan. Ada yang jebol, pokoknya.

Penurunan penerimaan pajak ini bukan tanpa sebab. Faktanya, era booming harga batubara yang sempat menggila itu sudah berakhir. Tahun 2022 dan 2023 lalu, penerimaan pajak memang 'on fire' berkat kenaikan harga batubara yang luar biasa naik sampai sembilan kali lipat, sebuah fenomena yang jarang terjadi dalam seabad terakhir.

Nah, ketika harga komoditas andalan itu kembali ke level normal, ya wajar kalau penerimaan pajak ikut merosot. Inilah yang terjadi sekarang.

Jadi, sebenarnya kondisi keuangan kita masih sangat bergantung pada siklus komoditas. Saat harga batubara dan minyak sawit melambung tinggi, pendapatan negara otomatis sehat dan defisit menyusut. Sebaliknya, saat harga kedua komoditas itu anjlok, penerimaan pajak pasti terpukul dan defisit pun melebar.

Anggaran yang boros tentu harus dipangkas. Tapi, ketergantungan pada komoditas ini seperti lingkaran yang terus berulang. Itulah tantangan sesungguhnya yang perlu diatasi, jauh lebih rumit daripada sekadar janji menguatkan mata uang dalam waktu semalam.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar