"Kalau tahun ini tembus diatas 3% ya wasalam. Rupiah bisa ancur ke 18.000," begitu peringatannya. Saat ini, defisit berada di angka 2,9%. Tampaknya kecil, tapi pasar finansial itu tempatnya penuh kecemasan. Mereka akan mulai panik begitu angka itu melampaui batas psikologis 3%.
Lalu, dari mana sumber defisit ini? Sederhana saja. Di satu sisi, anggaran belanja negara terbilang jumbo. Di sisi lain, pendapatan pajak justru tak sesuai harapan. Ada yang jebol, pokoknya.
Penurunan penerimaan pajak ini bukan tanpa sebab. Faktanya, era booming harga batubara yang sempat menggila itu sudah berakhir. Tahun 2022 dan 2023 lalu, penerimaan pajak memang 'on fire' berkat kenaikan harga batubara yang luar biasa naik sampai sembilan kali lipat, sebuah fenomena yang jarang terjadi dalam seabad terakhir.
Nah, ketika harga komoditas andalan itu kembali ke level normal, ya wajar kalau penerimaan pajak ikut merosot. Inilah yang terjadi sekarang.
Jadi, sebenarnya kondisi keuangan kita masih sangat bergantung pada siklus komoditas. Saat harga batubara dan minyak sawit melambung tinggi, pendapatan negara otomatis sehat dan defisit menyusut. Sebaliknya, saat harga kedua komoditas itu anjlok, penerimaan pajak pasti terpukul dan defisit pun melebar.
Anggaran yang boros tentu harus dipangkas. Tapi, ketergantungan pada komoditas ini seperti lingkaran yang terus berulang. Itulah tantangan sesungguhnya yang perlu diatasi, jauh lebih rumit daripada sekadar janji menguatkan mata uang dalam waktu semalam.
Artikel Terkait
Bayi Laki-laki dengan Tali Pusar Ditemukan Tewas Mengambang di Kali Cengkareng
Didu Tantang Prabowo: Rebut Kedaulatan atau Negara Bubar
Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan Pemicu Banjir Bandang Sumatera
Ibu Rumah Tangga Pekanbaru Terjerat Utang Ratusan Juta Diduga Dijerat Oknum Polisi