Di tengah deru mesin dan panasnya siang di sebuah persimpangan Medan, suara angklung tiba-tiba menyela. Nadanya sederhana, tapi cukup untuk mengusir penat sejenak bagi para pengendara yang terpaksa berhenti di lampu merah.
Namun, alunan musik itu tak berlangsung lama. Begitu lampu hijau hampir menyala, Haris Simanjuntak (40), pemain angklung itu, segera beraksi. Ia mengitari mobil dan motor, menengadahkan tangan dengan senyum. Imbalannya? Sekadar uang receh, seikhlasnya, sebagai balasan atas hiburan kecil di tengah kesibukan kota.
Banyak yang memberinya. Mungkin karena simpati, atau mungkin karena ia memang memainkan alat musik itu dengan cukup indah.
“Awalnya nyawer-nyawer dulu. Ikut gabung, nyawer-nyawer. Terus saya lihat, saya belajar,” kenang Haris saat kami ngobrol di pinggir jalan, Selasa (20/1) lalu.
Sebelum pulang kampung ke Medan, pria ini sudah empat tahun mengadu nasib di Jakarta, tepatnya sejak 2018. Di sanalah ia belajar angklung secara otodidak, hanya dengan mengamati pemain lain. Menurutnya, memainkan angklung itu seperti main gitar kalau sudah hapal kuncinya.
“Kalau kita niat, enggak susah mainkan angklungnya. Tapi, kalau kita hanya iseng saja susah,” ucapnya.
Ia biasanya tampil bersama ayah angkatnya yang memukul drum kecil. Kolaborasi sederhana itu menghasilkan irama yang padu dan enak didengar, mengundang perhatian.
Haris, warga Jalan Brigjen Katamso yang masih lajang ini, baru mulai mangkal di persimpangan dan kawasan Kesawan sejak tahun 2025. Setiap hari, ia harus menyewa angklungnya seharga Rp 50.000. Hasil sawerannya bisa mencapai Rp 150.000, meski jumlahnya tak menentu.
“Masalah itu tergantung rezekinya. Kena panas matahari, namanya kita berusaha,” ujarnya sambil mengelap keringat.
Jadwalnya padat. Selain di lampu merah, ia juga main di Kesawan dan setiap Minggu di Car Free Day Lapangan Merdeka. “Dari Zuhur sampai mau masuk Magrib baru selesai. Hari Selasa atau Kamis, kami istirahat,” imbuhnya. Kadang, ada juga undangan main di acara wisuda atau pengajian.
Di balik alunan merdu itu, ternyata ada ketakutan yang selalu menghantui. Haris takut ditangkap oleh dinas sosial atau Satpol PP.
“Sekarang di Medan, angklung ini kan musik. Bahkan di uang logam Rp 1.000 ada gambar angklung, tapi kenapa harus ditangcap. Di mana letak titik kesalahannya, seharusnya mereka itu melindungi,” protesnya dengan nada kesal.
“Asal kami nampak dinas sosial dan Satpol PP, lari. Karena sudah tertangkap kemarin teman saya. Bahkan angklungnya enggak keluar sampai sekarang (ditahan),” sambungnya.
Haris punya harapan sederhana. Ia ingin Pemerintah Kota Medan memberinya ruang, setidaknya mengizinkannya memperkenalkan musik tradisional ini.
“Kami mohon diperbolehkan main di lampu merah. Biar masyarakat Medan ini mengetahui angklung, ini kan kesenian. Kalau diharuskan memakai seragam, kita ada seragam,” tutupnya sebelum kembali menyeberang, menunggu lampu merah berikutnya untuk kembali memainkan angklungnya.
Artikel Terkait
BNI Pastikan Pengembalian Dana Rp28 Miliar Credit Union Aek Nabara pada 22 April 2026
Unhas Perkuat Pengawasan dengan Teknologi dan Aparat untuk UTBK 2026
Dua Tersangka Ditetapkan dalam Kasus Penikaman Ketua Golkar Maluku Tenggara
Investor Abu Dhabi Ports Group Tinjau Peluang Kerja Sama di Makassar New Port