Duel Gladiator Pelajar Berujung Patah Tulang di Sindangbarang

- Selasa, 20 Januari 2026 | 23:12 WIB
Duel Gladiator Pelajar Berujung Patah Tulang di Sindangbarang

Video berdurasi 49 detik itu beredar luas, memicu gelombang keprihatinan. Dalam rekaman itu, terlihat dua siswa SMA swasta dari Sindangbarang tergeletak di tanah. Mereka dipukuli bertubi-tubi oleh sekelompok siswa dari sebuah SMP negeri di Cibinong. Aksi dua lawan dua ini baru berhenti setelah ada aba-aba dari salah seorang pelajar yang justru sedang merekamnya.

Menurut Kapolsek Sindangbarang, AKP Dadang Rustandi, peristiwa memilukan ini terjadi di Kampung Sedekan, Desa Mekarlaksana. Tepatnya pada Sabtu malam, tanggal 17 Januari. Duel gladiator antar pelajar ini, kata dia, berawal dari ajakan yang dilayangkan lewat aplikasi pesan singkat.

"Betul, masih dalam penyelidikan. Lokasi kejadian berada di wilayah hukum Sindangbarang,"

kata Dadang kepada wartawan, Selasa (20/1).

Akibatnya tak main-main. Dalam keributan itu, seorang siswa SMA mengalami luka serius. Kaki kanannya patah. Bukan karena pukulan, melainkan ditabrak dari belakang oleh pelajar SMP yang mencoba kabur menggunakan sepeda motor usai duel.

"Salah satu siswa SMA ditabrak dari belakang oleh pelajar SMP menggunakan sepeda motor. Akibatnya, siswa SMA tersebut mengalami patah tulang pada kaki kanan,"

jelasnya lebih lanjut.

Polisi sudah bergerak cepat. Identitas para siswa yang terlibat, baik yang berkelahi maupun yang menonton, sudah di tangan penyidik. Setidaknya ada tujuh orang yang diduga terlibat. "Kepolisian telah memanggil pihak sekolah dan orang tua masing-masing," ujar Dadang. Langkah ini diambil sebelum penanganan lebih lanjut.

Di sisi lain, Kapolres Cianjur AKBP Alexander Yurikho Hadi menegaskan pendekatan khusus akan dilakukan. Mengingat semua pelaku masih berstatus anak-anak, penegakan hukum akan menjadi opsi terakhir.

“Semua yang terlibat masih berusia anak. Kami akan menerapkan penegakan hukum sebagai upaya terakhir dengan mengacu pada ketentuan dalam sistem peradilan anak,”

tegas Alexander. Nada pernyataannya jelas: prioritasnya adalah pendekatan yang lebih edukatif dan restoratif, sebelum memikirkan sanksi yang lebih berat.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar