Hujan deras dan kabut tebal menyelimuti Gunung Bulusaraung ketika Rusmandi dan timnya dari Basarnas Makassar menemukan korban pertama. Pesawat ATR 42-500 itu jatuh di Pangkep, Sulawesi Selatan, dan pencarian berujung pada pemandangan yang mengharukan. Korban pria itu tersangkut di pepohonan, persis di bibir jurang sedalam 200 meter.
Rusmandi menceritakan, proses mengamankan jenazah ke dalam kantong jenazah saja memakan waktu sekitar satu jam. Medannya sangat sulit, dengan kemiringan sekitar 30 derajat. Setelah berhasil, mereka berusaha mengangkat jenazah sekitar 60 meter ke atas. Tapi upaya itu terpaksa dihentikan.
"Kita sempat berhenti dan diskusi," ujar Rusmandi.
Alat yang tersedia kurang memadai, ditambah cuaca yang kian memburuk. Akhirnya, diputuskan untuk mengubah rute evakuasi ke arah bawah, menuju kampung terdekat yang dinilai lebih memungkinkan.
Namun begitu, perjalanan turun pun tak mudah. Setelah berjalan tiga jam di tengah hujan yang makin lebat, gelapnya malam memaksa mereka berhenti. Jarak pandang nyaris nol. Di situlah, keputusan berat diambil: mereka harus bermalam di lereng tebing itu, di tanah berbatu yang labil dan berisiko longsor.
“Jadi, kami tidur bersama jenazah,” beber Rusmandi, menggambarkan betapa timnya bertahan semalaman sambil menjaga korban dalam kondisi dingin yang menggigit.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Naik Rp35.000, Sentuh Rp3,059 Juta per Gram
Polda Maluku Musnahkan Ribuan Liter Sopi Hasil Operasi Gabungan
Jusuf Kalla Desak Indonesia Berpihak pada Negara Islam dalam Konflik Global
Harga Emas Batangan di Pegadaian Naik Rp33.000 per Gram