Keesokan harinya, Senin (19/1), kelelahan fisik tak terelakkan. Mereka sudah di ujung tenaga. Untuk keselamatan personel dan kelancaran evakuasi, dilakukanlah pergantian tim. Tim pertama menyerahkan estafet kepada tim lanjutan.
Kepala Kantor SAR Makassar, Muhammad Arif Anwar, yang bertindak sebagai koordinator, menegaskan hal ini. "Keselamatan tim tetap menjadi prioritas," katanya.
Perjuangan pun berlanjut. Tim kedua yang mengambil alih ternyata juga menghadapi jalan terjal yang sama. Mereka bahkan harus kembali bermalam dengan jenazah di gunung. Perjalanan turun yang melelahkan itu memakan waktu sekitar 20 jam sebelum bisa dilanjutkan lagi di pagi hari Selasa.
Setibanya di area persawahan, estafet kembali dilakukan. Tim ketiga mengambil alih di Desa Lampeso. Tugas mereka adalah membawa jenazah menuju peradaban melalui jalan setapak sepanjang 15 kilometer, melewati punggungan dan menyebrangi sungai.
Medan bervariasi itu akhirnya tertaklukkan. Setelah sampai di pemukiman, perjalanan belum usai. Masih ada lagi 5 kilometer jalan kaki menuju jalan poros Kecamatan Cenrana. Baru di sana, ambulans bisa menjangkau.
Malam itu juga, Selasa (20/1), jenazah korban pertama akhirnya tiba di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar. Sebuah perjalanan evakuasi yang panjang dan penuh pengorbanan, akhirnya mencapai garis finis.
Artikel Terkait
Waspada Hujan dan Angin Kencang, Wajo Berpotensi Alami Suhu Ekstrem
Perempuan Tewas Tertimpa Tembok Roboh di Karangpilang
Tiga Tewas, Satu Hilang dalam Insiden Kapal Terbalik di Perairan Batam
Tiongkok Desak Penghentian Operasi Militer di Timur Tengah, Khawatir Konflik Meluas