Damkar Surabaya: Mayoritas Panggilan Justru untuk Evakuasi Hewan

- Selasa, 09 Desember 2025 | 15:24 WIB
Damkar Surabaya: Mayoritas Panggilan Justru untuk Evakuasi Hewan

Kalau ada yang minta tolong di Surabaya, entah itu kebakaran atau ular masuk rumah, tim Damkar biasanya sudah siap meluncur. Sepanjang Januari hingga November 2025 saja, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) kota ini sudah menangani ribuan laporan. Tercatat 2.306 insiden evakuasi berhasil mereka selesaikan. Angka yang cukup besar, bukan?

Uniknya, mayoritas panggilan itu justru untuk mengevakuasi hewan. Kasusnya mencapai 1.424! Baru setelah itu evakuasi manusia, yang jumlahnya 358 kasus. Lalu ada lagi untuk kendaraan, objek alam, dan lainnya. Cuma tiga laporan terkait bangunan. Data ini jelas menunjukkan, kerja petugas Damkar Surabaya jauh lebih beragam dari sekadar memadamkan api.

Menurut Kepala DPKP Kota Surabaya, Laksita Rini Sevriani, angka tersebut membuktikan komitmen mereka sebagai garda terdepan.

“Kami berusaha selalu cepat, tapi juga humanis dalam melindungi warga Kota Pahlawan,” tegas Laksita.

Ia menyebut, lonjakan laporan paling tinggi terjadi pada November 2025. Cuaca ekstrem jadi pemicu utamanya.

“Curah hujan yang sangat tinggi memicu dua hal: banjir dan gangguan pada habitat hewan. Ular dan biawak pun keluar mencari tempat kering, seringkali ke pemukiman warga. Inilah yang menyebabkan permintaan evakuasi melonjak,” jelasnya, Selasa (9/12/2025).

Namun begitu, kerja mereka tak cuma soal bencana. DPKP Surabaya dikenal sebagai 'all-giver', siap merespon aneka panggilan darurat via telepon atau datang langsung. Laporannya bisa sangat unik.

“Pernah ada warga yang cincinnya tersangkut di jari. Dari rumah sakit, mereka malah diarahkan ke kami. Akhirnya kami bantu lepas pakai gerinda potong, baru kemudian ditangani medis,” cerita Laksita.

Layanan bernuansa humanis juga kerap diberikan. Misalnya, menyambut ibu hamil yang punya harapan anaknya kelak jadi petugas Damkar. Atau membantu memotong rambut warga berkebutuhan khusus yang hanya percaya pada tim mereka. Meski kadang, permintaannya di luar kewenangan seperti kerusakan motor semangat untuk membantu tetap diutamakan.

Soal kecepatan, standarnya ketat. Waktu respons untuk evakuasi disamakan dengan penanganan kebakaran: 6,5 menit. Begitu laporan masuk, tim terdekat langsung dikerahkan, bahkan pakai sepeda motor biar cepat sampai. Call center 112 dari Pemkot juga terbukti mempermudah warga melapor.

Ke depan, di tahun 2026, fokusnya adalah meningkatkan kesiapan personel. Pelatihan berkelanjutan dan survei wilayah rutin akan digelar agar setiap petugas paham betul SOP dan medan. Tujuannya satu: mempertahankan standar respons yang cepat itu.

Di sisi lain, peran masyarakat juga digenjot. Selain selalu mengingatkan untuk menghubungi 112, DPKP berencana mengadakan pelatihan evakuasi mini di tingkat wilayah.

“Idenya, memberdayakan warga agar bisa tangani insiden ringan sendiri, seperti evakuasi ular kecil. Dengan begitu, tim kami bisa lebih fokus pada kasus yang lebih rumit dan berisiko tinggi,” pungkas Laksita.

Jadi, selain sigap, mereka juga ingin gotong royong dengan warga. Sebuah langkah cerdas untuk kota sebesar Surabaya.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar