Menhub Paparkan Kronologi Pesawat KKP Hilang Kontak hingga Ditemukan di Lereng Bulusaraung

- Selasa, 20 Januari 2026 | 20:18 WIB
Menhub Paparkan Kronologi Pesawat KKP Hilang Kontak hingga Ditemukan di Lereng Bulusaraung

Sabtu lalu, 17 Januari, sebuah pesawat ATR 42-500 jatuh di lereng Gunung Bulusaraung, Pangkep, Sulawesi Selatan. Pesawat itu mengangkut sepuluh orang tiga di antaranya pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan, sisanya awak pesawat. Peristiwa ini langsung memicu operasi pencarian besar-besaran.

Beberapa hari setelahnya, tepatnya Selasa (20/1), Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi membeberkan kronologi kejadian. Penjelasannya disampaikan dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI di Gedung DPR. Berikut urutan peristiwa yang dirangkum dari paparan Menhub.

Semuanya bermula pagi hari di Yogyakarta. Pukul 08.08 WIB, pesawat dengan registrasi PK THT itu bersiap lepas landas dari Bandara Adisutjipto.

“Pesawat ATR 42-500 ini dioperasikan oleh PT Indonesia Air Transport dan dicarter oleh KKP untuk misi surveillance di perairan Indonesia. Itu bagian dari tugas pokok mereka,” ucap Dudy.
“Rutenya dari Yogya menuju Makassar. Ada 10 orang di dalamnya: 7 awak dan 3 penumpang dari KKP,” tambahnya.

Penerbangan berlanjut hingga siang. Menjelang pendaratan, sekitar pukul 12.23 WITA, Air Traffic Control (ATC) Bandara Sultan Hasanuddin mengarahkan pesawat untuk masuk ke landasan pacu 21.

“ATC mengarahkan pesawat untuk melakukan pendekatan ke runway 21,” jelas Dudy.

Namun begitu, sesuatu yang tidak biasa terjadi. ATC mendapati pesawat menyimpang dari jalur yang ditentukan. Kontak komunikasi pun mendadak terputus saat terakhir terdeteksi, pesawat berada di wilayah Maros.

“Komunikasi putus, lost contact. ATC segera mendeklarasikan fase darurat sesuai prosedur yang berlaku,” imbuhnya.

Tak lama setelah itu, Airnav dan Makassar Area Terminal Control Center (MATSC) bergerak cepat. Mereka mengkoordinasikan respon darurat dengan melibatkan Basarnas, TNI, Polri, serta pemerintah daerah setempat.

“Kami langsung membentuk crisis center di Bandara Sultan Hasanuddin untuk mengatur segala sesuatunya,” kata Dudy.

Operasi pencarian baru benar-benar dimulai keesokan harinya, Minggu (18/1). Pukul 06.15 WITA, drone milik TNI AU diterbangkan untuk menyisir area perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep di sekitar Gunung Bulusaraung.

Usaha itu tak butuh waktu lama untuk membuahkan hasil. Hanya sekitar satu setengah jam kemudian, pukul 07.46 WITA, tim SAR gabungan melihat sesuatu.

“Mereka mengidentifikasi serpihan pesawat secara visual. Awalnya berupa pecahan jendela, yang jadi penanda lokasi kecelakaan,” ujar Dudy.

Tiga menit berselang, temuan lebih besar dilaporkan.

“Ditemukan serpihan besar, diduga kuat bagian badan dan ekor pesawat,” lanjutnya.

Pukul 10.05 WITA, sebuah konferensi pers digelar untuk memberikan penjelasan pertama ke publik. Lalu, mendekati tengah hari, kabar duka pertama datang. Pukul 11.59 WITA, satu jenazah berhasil dievakuasi.

“Pos komando menerima laporan penemuan satu jenazah laki-laki. Proses evakuasi segera dilakukan,” tutur Dudy.

Hari itu ditutup dengan rapat koordinasi pada pukul 18.30 WITA untuk mengevaluasi pencarian. Senin pagi (19/1), koordinasi diulang lagi di posko terdekat, tepatnya di Kecamatan Baloci, Kabupaten Pangkajene.

Upaya terus berlanjut di tengah medan berat. Dan siang itu, pukul 14.20 WITA, korban kedua ditemukan.

Jasad seorang perempuan tersangkut di sebuah jurang, sekitar 500 meter dari titik serpihan utama. Kondisinya tak lagi bernyawa.

Dudy mengakui, operasi ini menghadapi tantangan yang sangat besar. Saat ia berkunjung ke lokasi pada Senin, cuaca benar-benar tak bersahabat.

“Awan tebal menyelimuti daerah itu. Hujan turun dari pagi sampai sore, menyulitkan tim rescuer bekerja,” tuturnya.

Medan yang dihadapi pun ekstrem. Lereng gunung yang terjal dengan kemiringan mencapai 70-80 derajat, ditambah kondisi licin akibat hujan, memperlambat setiap langkah.

“Sangat terjal dan licin. Benar-benar menyulitkan,” tambah Dudy.

Di sisi lain, persiapan untuk tahap selanjutnya telah dilakukan. Basarnas telah menyiapkan sebuah lokasi di Lanud Hasanuddin untuk menampung semua puing pesawat yang berhasil dikumpulkan. Proses identifikasi korban oleh tim DVI Polda Sulsel juga akan segera dimulai.

“Saat ini ada sekitar 1.200 petugas yang terlibat dalam pencarian di lokasi,” ucap Dudy.

Lalu, apa penyebab pasti kecelakaan ini? Pertanyaan itu masih menggantung. Hingga laporan ini dibuat, kotak hitam atau black box pesawat belum ditemukan.

“Penyebabnya masih kami tunggu hasil penyelidikan KNKT. Kami juga belum mendapat laporan apakah black box-nya sudah ditemukan atau belum,” tandas Menhub menutup penjelasannya.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar