Informasi soal pergerakan langkah di smartwatch Farhan Gunawan, kopilot pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Gunung Bulusaraung, Pangkep, Sulsel, akhirnya direspons oleh Basarnas. Kabar ini muncul setelah ponsel milik Farhan berhasil ditemukan di antara serpihan pesawat.
Ponsel itu kini dipegang oleh Dian Mulyana, yang disebut-sebut sebagai pacar Farhan. Dari sanalah, terpantau ada aktivitas pada jam pintar miliknya.
Arman Amirudin, Staf AMC Basarnas, menjelaskan kronologinya. Awalnya, ponsel tersebut ditemukan oleh tim SAR di tengah hutan. Karena terkunci dan tidak bisa dibuka, pihaknya pun membuatkan surat pernyataan.
“Hp ini kami serahkan memang untuk bisa dibuka kuncinya. Karena lock-nya, tidak bisa dibuka. Makanya dibuatkan surat pernyataan agar bisa dibawa ke Makassar dan dibuka,” kata Arman kepada wartawan, Selasa (20/1).
Sunyi di Lokasi Penemuan
Namun begitu, situasi di lokasi penemuan ponsel itu sama sekali tidak memberi harapan. Arman menegaskan, timnya tidak mendapati tanda-tanda keberadaan manusia.
“Tim kami yang turun di lokasi yang menemukan barang ini tidak ada sama sekali mendengar suara ataukah ada permintaan tolong, suara dan lain-lain sebagainya sampai saat ini,” ujarnya.
“Termasuk tim yang menuruni tebing dan yang nginap juga di atas puncak. Memang tidak ada suara atau permintaan bantuan,” sambung Arman.
Jadi, meski ada laporan pergerakan di smartwatch, Basarnas enggan menyimpulkannya sebagai tanda kehidupan. Semuanya masih terlalu samar.
“Kami tidak bisa mengatakan bahwa ada tanda-tanda kehidupan. Melihat dari kondisi ini, kalau dilihat di hpnya ada pergerakan. Tapi kalau itu hidup seperti apa, kami belum bisa katakan,” jelasnya. Suaranya terdengar hati-hati.
Menunggu Petunjuk dari Pelacakan Digital
Sekarang, fokus beralih ke pelacakan digital. Basarnas masih menunggu laporan dari Direktorat Siber Polda Sulsel. Mereka butuh titik koordinat terakhir di mana smartwatch itu aktif.
“Kami menunggu laporan Cybercrime, kami menunggu koordinat terakhir on supaya kami bisa menuju ke titik itu,” tandas Arman.
Idenya sederhana: smartwatch yang menyala biasanya mengirimkan data lokasi ke ponsel yang terhubung. Hasil olahan tim siber itulah yang nantinya akan menjadi panduan bagi tim di lapangan untuk melanjutkan pencarian. Semua pihak masih berharap, meski situasinya terlihat suram.
Artikel Terkait
Makassar Wajibkan Jukir Miliki KTP Lokal, Sinergi dengan Camat dan Lurah Diperkuat
Tangis Haru Calon Siswa Sekolah Rakyat Pecah di Pundak Seskab Teddy
Polisi Tangkap Tiga Pelaku Pemerkosaan Remaja di Makassar, Salah Satunya Masih di Bawah Umur
Kuasa Hukum Nadiem Protes Percepatan Sidang Chromobook, Sebut Langgar Prinsip Persidangan Adil