MAKASSAR – Drama di papan bawah Super League 2025/2026 semakin panas. PSBS Biak dan Semen Padang FC memang di ujung tanduk, tapi sorotan justru tertuju pada tiga nama lain: PSM Makassar, Persis Solo, dan Madura United. Siapa yang akhirnya selamat? Dan siapa yang harus ikut terlempar?
Semuanya jadi lebih seru setelah aksi Persis Solo. Mereka menang dramatis atas Bhayangkara FC. Sempat kebobolan cepat di menit ketiga, Laskar Sambernyawa bangkit. Gol Dimitri Lima menyamakan kedudukan, sebelum sundulan Luka Dumancic di injury time babak pertama memastikan kemenangan.
Ini bukan cuma soal tiga poin. Kemenangan itu seperti angin segar bagi mental mereka. Persis kini mengumpulkan 27 poin, naik ke posisi 15. Masih satu kaki di zona merah, tapi setidaknya ada secercah harapan.
Pelatih Milomir Seslija tak menyembunyikan rasa bangganya.
“Tim bermain sangat bagus. Hasil ini memberi keberanian lebih untuk laga selanjutnya. Kita akan hadapi Persija yang juga sedang tidak mudah. Butuh persiapan ekstra, apalagi tandang ke Jakarta,” ujar Milo.
Namun begitu, kemenangan Persis justru menambah beban untuk tetangganya di klasemen. PSM Makassar, yang cuma unggul satu poin, kini merasakan panasnya ancaman degradasi. Situasi mereka makin pelik karena Madura United masih punya satu laga tersisa yang bisa mengubah segalanya.
Bagi PSM, laga melawan Persik Kediri nanti benar-benar seperti final. Menang, mereka bisa sedikit bernapas lega. Kalah? Itu awal bencana yang mungkin tak bisa dihentikan.
Sheriddin Boboev, penyerang andalan mereka, sadar betul dengan situasi ini.
“Kita akan berusaha memberikan segalanya. Tiga poin itu wajib,” tegas Boboev.
Ia bahkan punya cara pandang lain terhadap tekanan ini. Baginya, ini justru peluang untuk tumbuh.
“Saya punya pengalaman dengan situasi serupa. Ini cuma bikin kita lebih kuat secara emosi, belajar menangani tekanan, dan ambil tanggung jawab,” ucapnya.
Tapi optimisme harus dibarengi realita. Persik Kediri bukan lawan sembarangan. Catatan pertemuan terakhir cukup suram buat PSM: empat imbang dan satu kalah. Duel nanti dipastikan ketat dan menegangkan.
Asisten pelatih PSM, Ahmad Amiruddin, sudah mengingatkan anak asuhnya.
“Saya bilang ke pemain, besok yang jadi pembeda adalah mentalitas kalian,” sebut Amiruddin.
“Di masa sulit, mental yang menentukan seberapa jauh kita bisa bertahan. Itu ujian buat kita sebagai tim.”
Di sisi lain, Madura United juga terjepit. Mereka masih terperangkap di zona merah dan punya satu laga tertunda. Peluang masih ada, tapi tekanan untuk menang jadi jauh lebih besar.
Kalau dilihat sekilas, PSBS Biak dan Semen Padang memang paling terancam. Tapi satu kursi degradasi itu masih jadi rebutan sengit antara PSM, Persis, dan Madura United.
Faktor penentunya? Bukan cuma skill. Tapi konsistensi dan mental bertarung di sisa pertandingan. Siapa yang bisa tetap fokus, yang minim blunder, dan tajam memanfaatkan peluang, dialah yang punya peluang bertahan.
Sudah nggak ada ruang untuk salah lagi. Setiap laga adalah final. Setiap poin bagai nyawa. Bagi ketiga tim ini, sisa musim ini adalah ujian terberat untuk membuktikan siapa yang pantas bertahan di kasta tertinggi.
Artikel Terkait
Malut United Hadang Persebaya dalam Duel Krusial Perebutan Papan Atas
Latihan Persiapan Tim Bulu Tangkis Indonesia di Denmark Resmi Ditutup
Juventus Siap Tawarkan Peran Kunci untuk Rekrut Lewandowski
Kapten Carvajal Terpinggirkan, Ketegangan dengan Arbeloa Menguat di Real Madrid