Di sisi lain, corak keagamaan di Hijaz sendiri sebenarnya tidak statis. Bisa berubah-ubah. Hari ini, yang dominan dan didukung pemerintah setidaknya hingga saat ini adalah paham Salafi. Sebagian orang menyebutnya dengan istilah "Wahhabi".
Tapi jangan salah, dalam perjalanan panjang sejarah, bukan hanya paham itu yang berkembang di sana.
Faktanya, untuk kurun waktu yang cukup lama, justru paham Sufi-lah yang lebih mendominasi kawasan Hijaz. Bahkan, antara aliran Sufi dan Salafi ini punya sejarah konflik yang panjang, baik secara pemikiran maupun politik.
Memang, ada hikmah besar di balik kelahiran Nabi di Makkah dan hijrahnya ke Madinah. Namun begitu, kita harus melihatnya dalam konteks zaman beliau. Bukan berdasarkan kondisi Hijaz masa kini yang didominasi satu paham, atau masa Kesultanan Utsmani dulu yang lebih condong ke Sufi.
Kesimpulannya, kita tidak bisa serta-merta membenarkan paham Salafi atau Sufi hanya karena Nabi berasal dari Hijaz. Itu namanya membaca sejarah dengan kacamata kuda. Pemahaman seperti itu justru mengaburkan pelajaran berharga yang seharusnya kita ambil.
Artikel Terkait
PSG Hajar Chelsea 5-2 dalam Laga Spektakuler Babak 16 Besar Liga Champions
Valverde Cetak Hattrick, Real Madrid Hancurkan Manchester City 3-0 di Liga Champions
12 Maret dalam Catatan Sejarah: Dari Awal Orde Baru Hingga Pawai Garam Gandhi
Panglima TNI Lakukan Rotasi Besar-besaran, Pangdam Jaya Naik Pangkat