Di sisi lain, corak keagamaan di Hijaz sendiri sebenarnya tidak statis. Bisa berubah-ubah. Hari ini, yang dominan dan didukung pemerintah setidaknya hingga saat ini adalah paham Salafi. Sebagian orang menyebutnya dengan istilah "Wahhabi".
Tapi jangan salah, dalam perjalanan panjang sejarah, bukan hanya paham itu yang berkembang di sana.
Faktanya, untuk kurun waktu yang cukup lama, justru paham Sufi-lah yang lebih mendominasi kawasan Hijaz. Bahkan, antara aliran Sufi dan Salafi ini punya sejarah konflik yang panjang, baik secara pemikiran maupun politik.
Memang, ada hikmah besar di balik kelahiran Nabi di Makkah dan hijrahnya ke Madinah. Namun begitu, kita harus melihatnya dalam konteks zaman beliau. Bukan berdasarkan kondisi Hijaz masa kini yang didominasi satu paham, atau masa Kesultanan Utsmani dulu yang lebih condong ke Sufi.
Kesimpulannya, kita tidak bisa serta-merta membenarkan paham Salafi atau Sufi hanya karena Nabi berasal dari Hijaz. Itu namanya membaca sejarah dengan kacamata kuda. Pemahaman seperti itu justru mengaburkan pelajaran berharga yang seharusnya kita ambil.
Artikel Terkait
Guru Honorer Jambi Jadi Tersangka Usai Tampar Murid yang Makinya
Abu Dhabi Bantah Keras Tuduhan Gudang Senjata dan Penjara Rahasia di Yaman
MK Tegaskan Jalan Polisi Aktif Duduki Jabatan Sipil Tetap Terbuka
Istana Sampaikan Duka, Pesawat ATR 42-500 KKP Jatuh di Lereng Bulusaraung