Temuan peralatan itu juga disebutnya membantu menjelaskan sebuah kejadian lain: kaburnya Aidarous Al-Zubaidi. Sang pemimpin STC diduga difasilitasi UEA untuk melarikan diri via Somalia menuju Abu Dhabi.
Maksudnya jelas, kata Al-Khunbashi: melindungi Zubaidi dari pertanggungjawaban hukum atas segala pelanggaran yang terjadi di Yaman selatan.
Dugaan Penjara Rahasia
Tak berhenti di situ. Gubernur Hadramout juga menyebut adanya bukti tentang penjara rahasia di Mukalla yang dikelola pasukan UEA. Penjara itu, klaimnya, digunakan untuk penahanan sewenang-wenang, penghilangan paksa, dan penyiksaan semua di luar sistem peradilan yang sah.
Di akhir pernyataannya, Al-Khunbashi menyatakan provinsi-provinsi selatan Yaman mulai melepaskan diri dari apa yang dia sebut “dominasi dan kontrol yang dipaksakan”.
Perkembangan di Hadramout ini juga diamati ketat oleh Indonesia. Alasannya, di provinsi ini terutama di Kota Tarim berada ribuan pelajar Indonesia yang sedang menimba ilmu agama Islam.
Bantahan Keras dari UEA
Tentu saja, Uni Emirat Arab membantah semua tuduhan itu.
“Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab secara tegas membantah klaim yang dilontarkan dalam konferensi pers oleh Gubernur Hadramout, Salem Al-Khunbashi,”
demikian bunyi siaran pers resmi mereka.
“Pihak Kementerian menegaskan bahwa konferensi tersebut memuat tuduhan palsu dan menyesatkan yang tidak memiliki bukti maupun landasan faktual, terkait dugaan penemuan sejumlah senjata dan bahan peledak di Bandara Riyan di kota Mukalla, Yaman, yang diklaim memiliki keterkaitan dengan Uni Emirat Arab.”
Artikel Terkait
Analisis Telematika: Operasi Gabungan CIA-Mossad di Balik Wafatnya Pemimpin Spiritual Iran
Harga Emas Perhiasan Stabil di Pasar Domestik, Puncak Rp2,6 Juta per Gram
BMKG Prakirakan Hujan Guyur Sebagian Besar Sulsel Sepanjang Minggu
Bahlil Lahadalia Sindir Penambahan Kursi Saat Nuzulul Quran, MUI: Jangan Bikin Candaan Agama