Sebanyak 430 paket berhasil mereka salurkan untuk dua SD, satu SMA, dan dua PAUD. Upaya heroik ini adalah bagian dari kerja rutin SPPG Desa Koa, yang didukung Yayasan Wadah Titian Harapan. Mereka melayani 1.384 penerima manfaat, mulai dari anak sekolah, ibu hamil, hingga balita di tiga desa sekitar.
Namun begitu, Edigar menyadari bahwa cara seperti ini bukan solusi yang aman dan berkelanjutan. Dia punya harapan besar. Ia berharap ada perhatian dari pemerintah untuk membangun jembatan di titik tersebut. Selama ini, alternatif jalur darat membutuhkan waktu tiga sampai empat jam, melewati jalan berbatu dan rawan longsor. Sungguh bukan perjalanan yang mudah.
“Harapan kami, semoga pemerintah bisa membantu membangun jembatan untuk mempermudah pelayanan MBG ke desa seberang,”
tuturnya lagi. Ia juga berharap Satgas Percepatan Pembangunan Jembatan dari pusat bisa segera menjangkau daerah terpencil seperti Desa Koa ini, yang masuk kategori daerah 3T.
Sebelumnya, setiap banjir datang, distribusi MBG memang terpaksa berhenti total. Kendaraan tak bisa menyeberang. Tapi kini, melihat semangat warga dan kebutuhan mendesak anak-anak, mereka memilih untuk tak tinggal diam. Mereka turun langsung, memikul beban, menembus arus, demi memastikan makanan bergizi itu sampai ke ruang kelas. Sebuah aksi nyata yang menunjukkan, di tengah keterbatasan, gotong royong dan kepedulian bisa menembus rintangan seberat apapun.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Naik Rp35.000, Sentuh Rp3,059 Juta per Gram
Polda Maluku Musnahkan Ribuan Liter Sopi Hasil Operasi Gabungan
Jusuf Kalla Desak Indonesia Berpihak pada Negara Islam dalam Konflik Global
Harga Emas Batangan di Pegadaian Naik Rp33.000 per Gram