Relawan dan Warga Desa Koa Menyeberangi Sungai Banjir Demi Kirimkan Makanan Bergizi untuk Anak Sekolah

- Selasa, 20 Januari 2026 | 14:36 WIB
Relawan dan Warga Desa Koa Menyeberangi Sungai Banjir Demi Kirimkan Makanan Bergizi untuk Anak Sekolah

Hujan tak henti-hentinya mengguyur Nusa Tenggara Timur, membuat Sungai Noelmina meluap dengan arus yang ganas. Di tengah kondisi seperti ini, sekelompok relawan dan warga dari Desa Koa justru memutuskan untuk menantang bahaya. Mereka harus menyeberang. Tujuannya satu: mengantarkan Makanan Bergizi Gratis (MBG) untuk anak-anak sekolah di seberang sungai yang sudah menunggu.

Banjir ini memang sudah jadi langganan. Setiap musim hujan tiba, Noelmina yang memisahkan Kabupaten Kupang dan Timor Tengah Selatan itu kerap meluap, memutus akses. Kali ini, lima sekolah di Desa Tuppan, berseberangan langsung dengan Desa Koa, terancam tak mendapat kiriman makanan bergizi. Padahal, kebutuhan anak-anak itu tak bisa ditunda.

Lalu, apa yang mereka lakukan? Mereka bergotong royong. Dengan peralatan seadanya, paket-paket MBG yang diantarkan mobil ke bibir sungai kemudian dipikul beramai-ramai. Relawan SPPG Desa Koa dan masyarakat setempat nekat menyeberangi arus yang deras, beralaskan batu-batu licin. Setelah sampai di seberang, perjalanan dilanjutkan menggunakan gerobak menuju sekolah-sekolah.

“Sudah tiga hari ini MBG digotong menyeberang sungai karena sungai banjir,”

kata Edigar Noel Alves Boavida, Kepala SPPG Desa Koa, Selasa lalu. Suaranya terdengar lelah namun penuh tekad.

Sebanyak 430 paket berhasil mereka salurkan untuk dua SD, satu SMA, dan dua PAUD. Upaya heroik ini adalah bagian dari kerja rutin SPPG Desa Koa, yang didukung Yayasan Wadah Titian Harapan. Mereka melayani 1.384 penerima manfaat, mulai dari anak sekolah, ibu hamil, hingga balita di tiga desa sekitar.

Namun begitu, Edigar menyadari bahwa cara seperti ini bukan solusi yang aman dan berkelanjutan. Dia punya harapan besar. Ia berharap ada perhatian dari pemerintah untuk membangun jembatan di titik tersebut. Selama ini, alternatif jalur darat membutuhkan waktu tiga sampai empat jam, melewati jalan berbatu dan rawan longsor. Sungguh bukan perjalanan yang mudah.

“Harapan kami, semoga pemerintah bisa membantu membangun jembatan untuk mempermudah pelayanan MBG ke desa seberang,”

tuturnya lagi. Ia juga berharap Satgas Percepatan Pembangunan Jembatan dari pusat bisa segera menjangkau daerah terpencil seperti Desa Koa ini, yang masuk kategori daerah 3T.

Sebelumnya, setiap banjir datang, distribusi MBG memang terpaksa berhenti total. Kendaraan tak bisa menyeberang. Tapi kini, melihat semangat warga dan kebutuhan mendesak anak-anak, mereka memilih untuk tak tinggal diam. Mereka turun langsung, memikul beban, menembus arus, demi memastikan makanan bergizi itu sampai ke ruang kelas. Sebuah aksi nyata yang menunjukkan, di tengah keterbatasan, gotong royong dan kepedulian bisa menembus rintangan seberat apapun.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar