Pagi itu, di sudut perpustakaan sekolah, Raka menatap rak sastra yang berdebu. Novel-novel klasik berdiri sunyi, seolah-olah menunggu tangan yang tak kunjung datang. Di mejanya, gawai menyala terang video berdurasi tiga puluh detik berganti cepat.
Ketika guru Bahasa Indonesia meminta pendapat tentang cerpen yang baru dibaca, kelas terdiam. Raka pun diam. Bukan karena cerpennya sulit, tapi karena ia tak pernah benar-benar membacanya. Sastra, bagi Raka dan banyak pelajar lain, telah menjadi dunia yang asing. Bahkan mati.
Gambaran kecil ini bukan sekadar fiksi. Ia mencerminkan fenomena yang kian nyata di masyarakat: merosotnya minat membaca sastra di kalangan pelajar. Di tengah derasnya arus digital, sastra kehilangan ruang hidupnya. Buku puisi, cerpen, dan novel kalah bersaing dengan konten instan yang menawarkan hiburan cepat tanpa menuntut perenungan.
Fenomena Sosial: Sastra yang Tersisih
Menurunnya minat baca sastra ini jelas terkait erat dengan perubahan lanskap budaya membaca kita. Membaca sastra butuh waktu, kesabaran, dan keheningan batin. Sementara itu, budaya digital justru mendorong kecepatan, visualisasi, dan kepuasan instan. Akibatnya, pelajar lebih akrab dengan ringkasan, kutipan motivasi, atau ulasan singkat daripada teks sastra itu sendiri.
Di sekolah, sastra sering direduksi menjadi objek ujian belaka. Cerpen dibaca cuma untuk mencari tema, tokoh, dan amanat bukan untuk dialami. Puisi dihafal tanpa pernah diresapi. Sastra kehilangan daya hidupnya karena diperlakukan semata sebagai materi akademik, bukan pengalaman manusiawi. Tak heran jika pelajar memandangnya sebagai beban, bukan kebutuhan.
Peminat Menurun, Imajinasi Menyusut
Yang hilang ketika minat membaca sastra menurun bukan cuma kebiasaan membaca. Kemampuan berimajinasi dan berempati juga ikut menyusut. Sastra melatih pelajar memasuki dunia orang lain, memahami konflik batin, penderitaan, harapan, dan kegembiraan manusia. Tanpa sastra, pelajar berisiko tumbuh dengan kepekaan yang tumpul.
Dampak lain yang tak kalah serius adalah melemahnya kemampuan berbahasa. Sastra memperkaya kosakata, melatih kepekaan rasa bahasa, dan membangun kemampuan berpikir reflektif. Ketika sastra ditinggalkan, bahasa cenderung menjadi dangkal, fungsional, dan miskin nuansa. Pelajar mungkin mahir berbicara, tetapi kurang mampu mengungkapkan pikiran dan perasaan secara mendalam.
Artikel Terkait
Tragis di Perlintasan Sinaksak, Pelajar SMK Tewas Tertabrak Kereta
Ketika Negara Mengintip Kamar Tidur: Dilema KUHP Baru dan Perkawinan yang Dipidanakan
Dominasi NVIDIA di Pasar AI Tiongkok Diprediksi Rontok ke 8% pada 2026
Demokrasi di Balik Layar: Ketika Oligarki Mengatur Panggung Politik Indonesia