Matinya sastra di kalangan pelajar bukan persoalan sepele. Dalam jangka panjang, ini bisa berkontribusi pada krisis kemanusiaan yang lebih luas. Sastra itu ruang pembelajaran moral yang halus bukan lewat ceramah, tapi lewat cerita. Ia mengajarkan kompleksitas hidup, ambiguitas moral, dan konsekuensi dari setiap pilihan manusia.
Bayangkan jika pelajar tumbuh tanpa sastra. Mereka berisiko menjadi generasi yang cerdas secara teknis, tapi miskin kebijaksanaan. Mampu menghitung, menghafal, dan menganalisis data, tapi gagap memahami luka sosial, penderitaan sesama, atau makna hidup yang lebih dalam. Pendidikan yang kehilangan sastra berpotensi melahirkan manusia efisien, tetapi kurang berbelas kasih.
Lalu, Bagaimana Mengatasinya?
Menghidupkan kembali sastra nggak cukup cuma dengan menambah daftar bacaan wajib. Butuh perubahan pendekatan yang lebih fundamental. Pertama, sastra harus dikembalikan sebagai pengalaman, bukan sekadar materi. Guru perlu menghadirkan sastra lewat diskusi terbuka, pembacaan ekspresif, atau pementasan kecil yang memberi ruang kebebasan berekspresi.
Kedua, sastra perlu dijembatani dengan dunia pelajar sekarang. Karya sastra kontemporer, cerita pendek dari media digital, atau puisi yang dekat dengan realitas mereka bisa jadi pintu masuk yang lebih menarik. Klasik tetap penting, ya, tapi harus diperkenalkan secara kontekstual, bukan dipaksakan begitu saja.
Yang ketiga, keluarga dan masyarakat harus ikut ambil bagian. Budaya membaca sastra nggak akan lahir cuma dari ruang kelas. Ia tumbuh dari rumah yang menyediakan buku, dari percakapan yang menghargai cerita, dan dari ruang publik yang memberi tempat bagi kegiatan literasi.
Mengapa Harus Diatasi?
Mengatasi matinya sastra ini bukan soal nostalgia masa lalu. Ini investasi untuk masa depan. Sastra membantu pelajar menjadi manusia utuh bukan cuma pekerja terampil, tapi juga pribadi yang mampu memahami diri dan orang lain. Di tengah dunia yang makin terpolarisasi, sastra justru mengajarkan dialog, empati, dan kebijaksanaan.
Kalau sastra benar-benar mati di kalangan pelajar, yang kita hadapi bukan cuma krisis literasi. Tapi krisis kemanusiaan. Dunia pendidikan akan kehilangan salah satu jantungnya. Jadi, menghidupkan sastra sama saja dengan menghidupkan kembali ruh pendidikan itu sendiri.
Di perpustakaan sekolah, rak sastra itu masih ada. Ia menunggu bukan cuma agar dibaca, tapi untuk menghidupkan kembali manusia-manusia muda yang suatu hari akan menentukan wajah masyarakat kita. Nah, pertanyaannya sekarang: Apakah kita bersedia membangunkan dunia sastra dari "kematian" yang sunyi ini?
Artikel Terkait
Jung Kyung Ho Jadi Pengacara Hantu, Bongkar Kejahatan di Tempat Kerja
Tamparan di Kelas, Guru Honorer Tersandung Hukum
Israel Robohkan Gedung PBB di Sheikh Jarrah, Sekjen Desak Pengembalian
Ormas Terlibat Korupsi Kemnaker, Pengacara Noel Janji Buka Semua di Sidang