Di tengah hiruk-pikuk kasus dugaan ijazah palsu yang kian panas, Presiden Prabowo Subianto seolah dihadapkan pada sebuah pilihan biner. Pilihannya, menurut sejumlah pengamat, sederhana namun berat: berdiri di pihak rakyat atau melindungi mantan presiden Joko Widodo.
Pertanyaan keras itu dilontarkan Marwan Batubara dalam sebuah diskusi publik di Jakarta, Senin lalu. Acara yang mengusung tema “Membedah KUHP dan KUHAP Baru, Menentukan Nasib Jokowi?” itu memang menyuguhkan pembahasan yang tajam.
“Rakyat sudah paham ada kejahatan yang dilakukan Jokowi. Presiden sering sebut-sebut rakyat. Sekarang rakyat ini sudah paham Anda mau pilih siapa, rakyat atau Jokowi?”
Batubara tak berhenti di situ. Ia memberi peringatan yang terdengar seperti ultimatum. Jika Prabowo memilih untuk tetap membela, konsekuensinya bisa besar. Rakyat, katanya, berhak meminta sang presiden turun dengan cara yang terhormat. Alasan utamanya jelas: karena dianggap gagal membela kepentingan mereka.
Di sisi lain, ada pula yang membaca langkah pelimpahan kasus ke kejaksaan dengan sudut pandang berbeda. Said Didu, misalnya, melihatnya sebagai sebuah sinyal politik. Bisa jadi ini cara Prabowo menunjukkan siapa yang kini memegang kendali.
“Siapa tahu ini perintah penguasa yang belum berkuasa sepenuhnya untuk menunjukkan: saatnya aku yang berkuasa, bukan Jokowi lagi,” ujarnya.
Namun begitu, optimisme itu tidak serta-merta diterima semua pihak. Di ruang yang sama, skeptisisme mengental. Pembawa acara Rahmawati menyindir dengan pedas, khawatir semua ini hanya ilusi belaka. “Jangan-jangan itu cuma ngarepdotcom. Penguasa sebelumnya dan yang sekarang sama-sama tidak ada yang asli, semuanya palsu,” sindirnya, menyiratkan ketidakpercayaan yang mendalam.
Suara paling tegas mungkin datang dari kalangan militer. Mayjen TNI (Purn) Soenarko tak sungkan menyampaikan kekecewaannya dengan nada geram. Baginya, ini soal harga diri bangsa yang diinjak-injak.
“Presiden tidak buta, tidak tuli. Masa tidak tahu Jokowi menipu dan Gibran malu-maluin bangsa? Punya malu tidak pengelola negara ini?”
Tekanan kian menguat. Dan kini, bola sepenuhnya ada di lapangan Prabowo. Menunggu langkah berikutnya.
Artikel Terkait
Mahfud MD Desak Kejaksaan Agung Periksa Wakil Pimpinan BGN Nanik S Deyang soal Korupsi MBG
Kebakaran di Makassar, Satu Rumah dan Kos-Kosan Ludes Dilalap Api
Polisi Gagalkan Penyelundupan 40 Kilogram Narkotika dari Malaysia di Pelabuhan Parepare, Lima Orang Diamankan
Ribuan Warga Karawang Desak Penutupan Permanen Tempat Hiburan Malam Terkait Dugaan Pesta Sesama Jenis