Di tengah hiruk-pikuk kasus dugaan ijazah palsu yang kian panas, Presiden Prabowo Subianto seolah dihadapkan pada sebuah pilihan biner. Pilihannya, menurut sejumlah pengamat, sederhana namun berat: berdiri di pihak rakyat atau melindungi mantan presiden Joko Widodo.
Pertanyaan keras itu dilontarkan Marwan Batubara dalam sebuah diskusi publik di Jakarta, Senin lalu. Acara yang mengusung tema “Membedah KUHP dan KUHAP Baru, Menentukan Nasib Jokowi?” itu memang menyuguhkan pembahasan yang tajam.
Batubara tak berhenti di situ. Ia memberi peringatan yang terdengar seperti ultimatum. Jika Prabowo memilih untuk tetap membela, konsekuensinya bisa besar. Rakyat, katanya, berhak meminta sang presiden turun dengan cara yang terhormat. Alasan utamanya jelas: karena dianggap gagal membela kepentingan mereka.
Di sisi lain, ada pula yang membaca langkah pelimpahan kasus ke kejaksaan dengan sudut pandang berbeda. Said Didu, misalnya, melihatnya sebagai sebuah sinyal politik. Bisa jadi ini cara Prabowo menunjukkan siapa yang kini memegang kendali.
Artikel Terkait
Bahlil Lahadalia Sindir Penambahan Kursi Saat Nuzulul Quran, MUI: Jangan Bikin Candaan Agama
Lamine Yamal Pecah Kebuntuan, Bawa Barcelona Menang Tipis di Markas Bilbao
Chelsea Tumbangkan Wrexham 4-2 dalam Laga Sengit Perempat Final Piala FA
FC Groningen Kalahkan Ajax Amsterdam 3-1 dalam Kejutan Eredivisie