Jerman Siap Cabut dari Piala Dunia 2026, Trump Jadi Biang Keributan

- Selasa, 20 Januari 2026 | 07:00 WIB
Jerman Siap Cabut dari Piala Dunia 2026, Trump Jadi Biang Keributan

Jerman Ancam Boikot Piala Dunia 2026 Gara-gara Greenland

Suasana politik global kembali memanas di awal 2026. Kali ini, rencana Presiden AS Donald Trump untuk mencaplok Greenland memicu reaksi keras dari Jerman. Bahkan, negeri empat kali juara dunia itu mulai bicara soal boikot Piala Dunia 2026 yang rencananya digelar di Amerika Utara.

Ya, ancaman itu serius. Boikot dianggap sebagai senjata terakhir untuk menghentikan ambisi Trump yang dinilai kontroversial dan mengganggu stabilitas.

Juru bicara kebijakan luar negeri dari fraksi CDU/CSU di parlemen Jerman, Juergen Hardt, yang menyampaikan peringatan itu. Ia bilang, langkah itu cuma akan diambil kalau semua upaya lain gagal.

“Menolak keikutsertaan dalam turnamen akan dipertimbangkan sebagai langkah terakhir untuk membuat Presiden Trump berpikir jernih mengenai isu Greenland,” tegas Hardt, seperti dilansir kantor berita TASS.

Piala Dunia 2026 sendiri dijadwalkan berlangsung dari 11 Juni hingga 19 Juli. Turnamen itu akan digelar di 16 kota yang tersebar di tiga negara: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Bayangkan saja, gelaran olahraga terbesar di dunia itu bisa jadi korban dari ketegangan geopolitik.

Ambisi Trump yang Tak Pernah Padam

Memasuki tahun 2026, Trump kembali mengobarkan niatnya membeli Greenland dari Denmark. Kali ini, gayanya lebih agresif. Ia bahkan tak segan mengancam sekutu-sekutu terdekatnya sendiri.

Pertama, ancaman tarif. Trump mengancam bakal mengenakan tarif impor 10% mulai 1 Februari 2026 untuk negara yang menentang rencananya. Tarif itu bahkan bisa melonjak jadi 25% pada 1 Juni nanti. Daftar negara sasarannya panjang: Denmark, Jerman, Prancis, Inggris, Belanda, Norwegia, Swedia, sampai Finlandia.

Alasannya klasik: keamanan nasional dan ekonomi. Trump bilang, Greenland penting buat mencegah pengaruh Rusia dan Tiongkok di kawasan Arktik. Belum lagi cadangan mineral langkanya yang melimpah, yang tentu menggiurkan bagi industri teknologi AS.

Namun begitu, rencana ini langsung bikin krisis diplomatik. Uni Eropa sampai gelar rapat darurat dan siap-siap meluncurkan “bazooka perdagangan” berupa tarif balasan yang nilainya miliaran dolar. Di sisi lain, negara-negara NATO dikabarkan meningkatkan kehadiran militernya di Greenland, sebagai bentuk dukungan pada kedaulatan Denmark.

Pemerintah Denmark dan Greenland sendiri bersikukuh. Intinya cuma satu: “Greenland tidak untuk dijual.”

Yang bikin situasi makin runyam adalah pernyataan Trump sendiri yang kontroversial. Dalam sebuah komunikasi yang bocor, ia menghubungkan ambisi ini dengan kekecewaannya karena tak pernah dapat Nobel Perdamaian. Ia merasa tak lagi perlu bertindak demi perdamaian, dan bersikeras AS akan mengambil alih Greenland “dengan satu atau lain cara”. Saat ditanya soal kemungkinan pakai kekuatan militer, jawabnya cuma singkat: “no comment”.

Sampai detik ini, ketegangan masih menggantung. Delegasi Kongres AS dari kedua partai dikabarkan sedang berupaya melakukan diplomasi di Kopenhagen, berusaha meredakan gejolak yang bisa berakibat jauh lebih luas dari sekadar lapangan sepak bola.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar