Ormas Jadi Partai, Nama Anies Menggema: Pengamat Sebut Gerakan Rakyat Siapkan Panggung Politik 2029
Dinamika politik pasca-2024 kembali dapat catatan baru. Lewat Rakernas di Jakarta, Minggu lalu, Organisasi Masyarakat Gerakan Rakyat resmi mengumumkan transformasinya menjadi partai politik. Menurut pengamat, langkah ini bukan cuma soal perubahan bentuk, tapi juga membuka babak baru yang sarat spekulasi. Dan di tengah semua itu, satu nama terus disebut: Anies Baswedan.
Selamat Ginting, pengamat politik dari Universitas Nasional (UNAS), melihat peristiwa ini punya makna yang dalam. "Kehadiran dan keterkaitan nama Anies dalam forum tersebut, meskipun bukan sebagai pimpinan struktural, menjadikan transformasi ini sarat makna politik," ujarnya kepada redaksi pada 20 Januari 2026.
Ia menambahkan, langkah ini membuka ruang spekulasi tentang arah kekuatan politik baru jelang Pemilu 2029.
Sebenarnya, jalan ormas beralih jadi partai bukan hal baru di Indonesia. Ini sering jadi pilihan saat sebuah gerakan merasa jalur advokasi sosial sudah mentok. Politik elektoral, mau tak mau, menawarkan sesuatu yang lebih konkret: kekuasaan formal dan akses untuk mengubah kebijakan.
"Dalam konteks Gerakan Rakyat, transformasi ini dapat dibaca sebagai kesadaran bahwa advokasi nilai, gagasan perubahan, dan kritik terhadap status quo membutuhkan saluran institusional," kata Ginting.
Dengan jadi partai, gagasan mereka bisa masuk ke parlemen atau pemerintahan daerah. Itu langkah rasional untuk kalkulasi jangka panjang. Namun begitu, konsekuensinya jelas. Begitu menginjakkan kaki di arena politik praktis, posisi netral dan idealisme moral bakal berhadapan dengan realitas yang keras: kompromi, negosiasi, dan pragmatisme. Itu sering jadi batu sandungan.
Di sinilah nama Anies Baswedan muncul sebagai variabel kunci. Meski tak pegang jabatan, kehadirannya di forum itu punya nilai politik luar biasa. Di panggung politik kita yang masih sangat figur-oriented, legitimasi personal kerap lebih kuat ketimbang institusi.
"Relasi Anies dengan partai ini tampak sengaja dibiarkan dalam wilayah abu-abu. Tidak sepenuhnya formal, namun cukup dekat untuk menciptakan asosiasi kuat di benak publik," ujar Ginting.
Artikel Terkait
Depresi Usai Dipalak Miliaran, Ibu Rumah Tangga Loncat dari Kapal Feri
Forum Advokasi Soroti KUHP Baru dan Kasus Ijazah Palsu di Tengah Gelombang Kriminalisasi
Coki Pardede dan Malam Kelam yang Berujung Rehabilitasi
Adaptasi Live Action 5 Centimeters Per Second Segera Hangatkan Bioskop Indonesia