Suasana di Teheran tebal dengan ketegangan. Namun, di tengah dentuman yang masih mungkin terdengar, sebuah pesan justru mengejutkan. Presiden Iran Masoud Pezeshkian, melalui siaran televisi pemerintah pada Sabtu, secara terbuka meminta maaf kepada negara-negara tetangganya di Teluk. Ini langkah yang jarang terjadi, terlebih di saat konflik dengan aliansi AS dan Israel justru sedang memanas.
Dalam pidato yang direkam sebelumnya itu, Pezeshkian berjanji pemerintahannya akan berupaya meredakan ketegangan. Pernyataannya datang setelah seminggu penuh pertukaran serangan rudal dan drone yang melintasi batas-batas negara.
Menurut sejumlah saksi, langkah ini tak lepas dari keputusan dewan kepemimpinan sementara. Dewan itu sendiri dibentuk setelah wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Mereka dikabarkan telah menyetujui kebijakan baru soal cara Iran merespons ancaman militer.
Intinya sederhana: pasukan Iran dilarang menargetkan negara tetangga. Kecuali, serangan terhadap Iran benar-benar diluncurkan langsung dari wilayah negara tersebut. Salinan pidato yang dipublikasikan Press TV itu jelas menyebut hal itu. Tujuannya, kata mereka, untuk mencegah api konflik menjalar ke seluruh kawasan Teluk.
Namun begitu, permintaan maaf itu disampaikan justru ketika sirene-sirene di Teheran mungkin baru saja mereda. Militer Israel, lewat pernyataan resmi Pasukan Pertahanan (IDF), mengaku telah melancarkan serangan skala luas. Lebih dari 80 jet tempur mereka menggempur ibu kota Iran dan wilayah sekitarnya.
Targetnya? Akademi pelatihan militer dan fasilitas penyimpanan rudal balistik yang terletak di bawah tanah. Serangan ini adalah bagian dari eskalasi yang terus berkembang, berawal dari serangan AS dan Israel yang menewaskan Khamenei dan sejumlah petinggi militer Iran.
Jadi, di satu sisi ada kata maaf dan janji penahanan diri. Di sisi lain, langit Teheran masih gelap oleh asap konflik yang sepertinya belum akan berakhir.
Artikel Terkait
Kasus Suap Impor Bea Cukai Jadi Momentum Perkuat Tata Kelola Sistem
DPR Tolak Wacana PPN Jalan Tol, Pemerintah Tegaskan Masih Tahap Kajian
Jasa Raharja Dorong Kemandirian Perempuan Korban Kecelakaan Lewat Program Pemberdayaan
Gibran Beri Voucher Belanja ke 100 Janda Papua di Hari Kartini