Strategi seperti ini, lanjutnya, punya dua keuntungan. Pertama, partai dapat daya tarik elektoral dari figur populer tanpa harus menanggung risiko personalisasi penuh. Kedua, Anies sendiri tetap punya fleksibilitas, tidak terikat mati pada satu kendaraan.
Tapi ya, risikonya juga ada. Ketergantungan simbolik pada satu figur bisa bikin partai sulit bangun identitas mandiri. "Jika kelak Anies mengambil jarak atau memilih jalur politik lain, Gerakan Rakyat berpotensi kehilangan magnet utamanya," katanya. Inilah dilema klasiknya: kuat di awal, tapi rapuh dalam proses institusionalisasi.
Transformasi ini jelas sulit dilepaskan dari bayang-bayang Pemilu 2029. Memang masih lama, tapi persiapan harus dimulai dari sekarang. Partai baru butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun struktur, mengkader, dan mengonsolidasikan basis massa.
Gerakan Rakyat, dengan narasi perubahan dan politik bersih, berusaha memosisikan diri sebagai alternatif bagi yang kecewa pada partai lama. Pertanyaannya, menurut Ginting, apakah narasi itu bisa dibuktikan dalam praktik politik yang konsisten?
Sistem kita yang kompetitif dengan ambang batas parlemen menuntut kerja serius. Tanpa mesin partai yang kuat dan konsolidasi nasional, idealisme mudah sekali kandas.
Munculnya partai baru ini juga mencerminkan fragmentasi politik pasca-2024. Koalisi besar yang terbentuk sebelumnya menyisakan ruang bagi kelompok yang merasa tak terakomodasi. Gerakan Rakyat mencoba mengisi celah itu. Namun, fragmentasi ini justru memperkuat kecenderungan politik yang berbasis figur. Seringnya, partai baru lahir bukan karena ideologi yang berbeda, tapi lebih sebagai kendaraan bagi tokoh tertentu.
"Jika tidak diimbangi dengan platform kebijakan yang jelas dan konsisten, partai semacam ini berisiko menjadi sekadar alat transaksional belaka," tegas Ginting.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa transformasi Gerakan Rakyat tetaplah langkah strategis yang mencerminkan dinamika politik Indonesia yang terus bergerak. Keterkaitan dengan Anies memberi daya tarik sekaligus tantangan. Ke depan, kesuksesan partai ini tak cuma ditentukan popularitas figur, tapi juga kemampuan membangun institusi yang solid, memperluas basis, dan menjaga konsistensi antara kata dan perbuatan.
Dalam demokrasi, lahirnya partai baru patut diapresiasi. Tapi publik juga berhak kritis. Akankah partai ini sungguh-sungguh jadi alat perjuangan rakyat, atau hanya episode baru dalam siklus personalisasi politik kita? Hanya waktu dan kerja politik yang nyata yang bisa menjawabnya.
Artikel Terkait
Depresi Usai Dipalak Miliaran, Ibu Rumah Tangga Loncat dari Kapal Feri
Forum Advokasi Soroti KUHP Baru dan Kasus Ijazah Palsu di Tengah Gelombang Kriminalisasi
Coki Pardede dan Malam Kelam yang Berujung Rehabilitasi
Adaptasi Live Action 5 Centimeters Per Second Segera Hangatkan Bioskop Indonesia