Kapolri Ajak Masyarakat Sumsel Bersatu Dukung Upaya Diplomasi Perdamaian dan Swasembada

- Sabtu, 07 Maret 2026 | 19:30 WIB
Kapolri Ajak Masyarakat Sumsel Bersatu Dukung Upaya Diplomasi Perdamaian dan Swasembada

Di halaman Mapolda Sumatera Selatan, Sabtu pagi itu, suasana terasa berbeda. Irama hadroh menyambut kedatangan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo beserta rombongan. Sekitar enam ratus orang sudah menunggu, dari pejabat Forkopimda, tokoh agama, hingga perwakilan serikat pekerja. Agenda Safari Ramadan kali ini memang dipusatkan di Palembang, dan sambutannya hangat. Bahkan, Ketua MUI Provinsi Sumsel langsung mengenakan sorban ke pundak sang Jenderal.

Membuka sambutannya, Sigit tak lupa membalas pantun dari tuan rumah. Dengan sedikit senyum, ia melantunkan, "Jembatan Ampera warnanya merah, melintasi sungai namanya Musi. Safari Ramadan membawa berkah, menjalin erat tali silaturahmi."

Ucapan itu langsung disambut gemuruh tepuk tangan.

Namun begitu, pesan inti yang dibawanya jauh melampaui sekadar silaturahmi lokal. Jenderal Sigit mengajak semua elemen masyarakat, khususnya di Sumsel, untuk benar-benar merapatkan barisan. Persatuan bangsa, menurutnya, adalah modal utama saat ini. Ia lalu mengaitkannya dengan langkah aktif pemerintah di kancah global.

"Bapak Presiden melakukan berbagai macam upaya diplomatik," ungkap Sigit, menegaskan peran Prabowo Subianto.

"Menghubungi beberapa negara untuk kemudian berdiskusi bagaimana caranya agar peristiwa yang terjadi di Timur Tengah ini segera bisa berakhir."

Dukungan dari dalam negeri, dari ulama dan umara, disebutkannya sebagai penguat posisi Indonesia di mata dunia. Tanpa itu, upaya perdamaian yang digaungkan akan terasa berat.

Di sisi lain, Kapolri tidak menutup mata soal dampak riil konflik jauh itu di rumah sendiri. Ia menyoroti insiden di pangkalan militer Timur Tengah yang sempat mengacaukan logistik. Gangguan di Selat Hormuz itu memicu lonjakan harga minyak dunia. Dan itu bukan cuma angka di layar.

"Kalau harga ini kemudian terus tidak terkendali, implikasi dan dampaknya juga akan terjadi di dalam negeri," ujarnya dengan nada serius.

Oleh karena itu, mitigasi menjadi kata kunci. Kekompakan antara TNI, Polri, ulama, dan seluruh rakyat harus dijaga. Barisan harus tetap satu. Ia optimis, sih. Optimisme itu ia ambil dari pengalaman pahit yang sudah berhasil dilewati: pandemi Covid-19. Dulu, sinergi yang kuat terbukti menjaga ekonomi nasional tetap tumbuh positif.

"Kita bisa kembali, ekonomi kita bisa tumbuh saat itu. Bahkan kita berada di negara nomor satu atau nomor dua di negara-negara G20," tegasnya.

"Dan itu semua bisa terjadi karena kita semua bersatu."

Menutup arahannya, ajakannya menjadi lebih konkret. Sigit mendorong dukungan penuh terhadap program swasembada pangan dan energi. Itu adalah benteng pertahanan. Kemandirian, baginya, adalah kunci agar Indonesia tidak mudah goyah hanya karena tekanan dari luar.

"Mari kita berdoa bersama, kita berikhtiar bersama agar semua tantangan yang sedang kita hadapi ini bisa kita lalui. Kita dorong program swasembada pangan dan energi agar kita bisa berdiri di atas kaki sendiri," pungkasnya.

Acara yang berlangsung khidmat itu dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi. Tampak hadir Kabaintelkam Komjen Yuda Gustawan, Dankorbrimob Komjen Ramdani Hidayat, dan Kadiv Humas Polri Irjen Johnny Eddizon Isir. Dari pihak pemda, Gubernur Sumsel Herman Deru hadir mendampingi, bersama Kapolda setempat Irjen Sandi Nugroho dan Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Ujang Darwis.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar