Lautnya terlihat lengang, jauh dari kesibukan biasa. Sejak awal Maret, hanya sembilan kapal entah itu tanker minyak, kapal kargo, atau kontainer yang tercatat berhasil melintasi Selat Hormuz. Padahal, jalur sempit ini biasanya ramai oleh lalu lintas kapal dari berbagai penjuru dunia.
Data dari MarineTraffic, yang dianalisis AFP, menunjukkan betapa drastisnya penurunan ini. Perhitungannya sederhana: hanya kapal yang memancarkan sinyal di kedua sisi selat yang masuk hitungan. Tapi, angka sembilan itu mungkin saja tidak sepenuhnya akurat. Soalnya, kalkulasi ini bisa saja melewatkan kapal-kapal yang mematikan sistem pelacaknya untuk waktu yang lama, sebuah taktik yang belakangan makin sering dipakai.
Konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, yang memanas akhir pekan lalu, jadi penyebab utamanya. Jalur pelayaran vital ini praktis ditutup oleh perang. Padahal, selat ini adalah urat nadi energi global. Sekitar seperlima suplai minyak mentah dunia dan gas alam cair (LNG) harus melewati titik sempit ini untuk sampai ke pasar internasional.
Akibatnya bisa ditebak. Serangan terhadap kapal-kapal yang masih nekat melintas kian meningkat, memicu kekhawatiran serius akan goncangan di ekonomi global. Ratusan kapal lainnya memilih untuk bersabar, menurunkan jangkar di kedua ujung selat, menunggu situasi yang lebih aman setelah sejumlah insiden serangan pada akhir pekan.
Namun begitu, bukan berarti lalu lintas benar-benar nol sama sekali.
"Beberapa kapal tanker masih berlayar melalui selat tersebut, dengan sejumlah pelayaran mematikan AIS (sistem identifikasi otomatis)," jelas Matt Wright, seorang analis di Kpler.
Praktik 'siluman' seperti ini memang terjadi. Ambil contoh kapal tanker Kavomaleas. Sinyalnya terpantau di timur selat tanggal 3 Maret, lalu hilang. Baru muncul lagi setelah 14 jam kemudian, saat kapal itu sudah berada di seberang Selat Hormuz.
Kasus serupa terlihat pada sebuah kapal kontainer asal Panama sepanjang 130 meter. Kapal ini berangkat dari Pakistan hari Senin, terpantau mendekati Selat Hormuz Rabu malam, dan kini sudah berada di dalam Teluk Persia sejak Kamis pagi. Rute dan waktunya menunjukkan ia pasti melintasi zona berbahaya itu dengan cara tertentu.
Di sisi lain, ada juga yang memutuskan untuk pergi. Kapal Pushpak, pengangkut produk minyak bumi, meninggalkan Teluk Persia pada Kamis malam. Ia berangkat dari pelabuhan Irak awal pekan ini, memutuskan untuk keluar dari kawasan yang makin mencekam.
Suasana di Selat Hormuz kini bagai dua dunia: lengang di permukaan, tapi tegang di bawahnya. Setiap kapal yang melintas mengambil risiko, sementara yang lain memilih menunggu. Dampaknya? Masih harus kita lihat, tapi gelombangnya sudah mulai terasa.
Artikel Terkait
Kasus DBD di Indonesia Tembus 30.465, Pemerintah Dorong Kolaborasi Lintas Sektor
Gelombang Pertama Jemaah Haji Indonesia Tiba di Madinah, Mayoritas Lansia
Permintaan Ekspor Pupuk Indonesia Membludak, Pemerintah Jaga Keseimbangan Pasokan Domestik
SK Hynix Catat Laba Kuartalan Tertinggi, Didorong Gelombang Permintaan Chip AI