“Saya pikir ini modal kita dan ini harus kita pertahankan, harus kita kembangkan. Supaya niat dari presiden membangun Sekolah Rakyat betul-betul sesuai dengan apa yang diharapkan. Yaitu untuk memutus transmisi kemiskinan,”
ungkap Agus Jabo lagi.
Di sisi lain, Wamensos juga menyelipkan harapan sekaligus peringatan. Dia berharap insiden seperti bullying, kekerasan, atau intoleransi bisa dihindari di lingkungan Sekolah Rakyat. Latar belakang siswa yang beragam dan dinamis harus dikelola dengan baik.
“Ini mohon ya karena memang latar belakang anak-anak ini bermacam-macam, dinamis sekali mudah-mudahan hal-hal seperti itu bisa dimitigasi di Sekolah Rakyat,” jelasnya.
Harapan itu sepertinya mulai terwujud. Menurut Felifina Agustina Kale, Kepala Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 19 Kupang, dalam satu semester ini para siswanya menunjukkan kemajuan signifikan, khususnya dalam hal toleransi beragama.
“Mereka (siswa) tidak menganggap bahwa perbedaan agama ini sesuatu yang justru membuat jarak di antara mereka, saya bersyukur sekali,”
pungkas Felifina. Dia menceritakan bagaimana seorang siswi muslim bernama Anisa tetap nyaman beribadah di tengah teman-temannya yang berbeda keyakinan. Sebuah gambaran sederhana, tapi punya makna yang dalam.
Artikel Terkait
Rem Blong Truk Kontainer Diduga Picu Kecelakaan Beruntun di Tol Cipularang, 2 Tewas
Anak Tinggalkan Adik Bayi di Gerobak Nasi Uduk, Surat Tulisan Tangan Ungkap Alasan
Fajar/Fikri Tersingkir di 16 Besar All England Usai Duel Sengit Tiga Gim
Syahganda Nainggolan: Hanya Soekarno dan Prabowo yang Punya Ideologi Kuat