Dari Kartu Telepon ke Raksasa Digital: Saham Moratelindo Melonjak 440% dalam Sebulan

- Rabu, 10 Desember 2025 | 17:15 WIB
Dari Kartu Telepon ke Raksasa Digital: Saham Moratelindo Melonjak 440% dalam Sebulan

Kalau bicara soal pemain infrastruktur telekomunikasi di Indonesia, nama Moratelindo atau PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) pasti tak asing. Perusahaan ini sudah berdiri sejak tahun 2000, lho. Awalnya, mereka fokus pada layanan internet dan kartu telepon biasa. Tapi lihat sekarang, bisnisnya sudah berkembang jauh.

Transformasi besar terjadi sekitar 2007. Saat itulah MORA mulai serius membangun jaringan kabel fiber optik, dimulai dengan segmen sepanjang 7,5 km di Pulau Jawa. Tak lama setelah itu, mereka bahkan terlibat dalam proyek-proyek strategis seperti jaringan kabel laut Jakarta-Singapura dan kabel bawah laut yang menghubungkan Batam, Dumai, hingga Malaka. Jaringan backbone mereka pun membentang di sepanjang Sumatera.

Puncaknya, pada 2016, perseroan ini memenangkan tender pemerintah untuk proyek Palapa Ring Barat dan Timur. Proyek ambisius ini bertujuan membangun infrastruktur serat optik di seluruh negeri. Jaringan Palapa, seperti kita tahu, kini jadi tulang punggung bagi banyak layanan telekomunikasi yang kita nikmati.

Dengan sederet izin di tangan mulai dari Jaringan Tetap Tertutup, NAP, ISP, hingga lisensi membangun data center nasional MORA kini menawarkan enam pilar layanan. Mulai dari solusi konektivitas untuk korporasi dan UMKM, layanan internet, hingga pengelolaan Nusantara Data Center. Jangkauan jaringan mereka luas sekali, mencakup Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, hingga Papua, baik lewat darat maupun bawah laut.

Lalu, siapa yang mengendalikan saham perusahaan sebesar ini?

MORA baru melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2022. Kala itu, mereka berhasil mengumpulkan dana segar sekitar Rp1 triliun dari penawaran perdana sahamnya.

Berdasarkan data per 30 November 2025, pengendali utamanya adalah PT Candrakarya Multikreasi dengan kepemilikan sekitar 35,99%. Di posisi berikutnya ada PT Gema Lintas Benua yang memegang sekitar 30,18% saham. Yang menarik, penerima manfaat akhir dari kepemilikan ini adalah Farida Bau.

Ada juga perubahan kepemilikan yang cukup signifikan baru-baru ini. PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) sebelumnya memegang 18,32% saham MORA. Namun, mereka melepas seluruh kepemilikannya di awal Desember, seperti diumumkan melalui keterbukaan informasi pada tanggal 5 Desember.

Performa saham MORA di pasar belakangan ini sungguh mencengangkan. Pada perdagangan Rabu, 10 Desember 2025, sahamnya ditutup melonjak di level Rp14.050 per lembar naik hampir 20% hanya dalam sehari. Bahkan, dalam sebulan terakhir, kenaikannya mencapai lebih dari 440%! Padahal, jika kita mundur ke awal tahun hingga Oktober lalu, harga saham ini masih berkutat di kisaran Rp400-an.

Pertumbuhan yang agresif itu tentu menarik perhatian banyak investor. Dari penyedia kartu telepon sederhana, MORA telah bertransformasi menjadi raksasa infrastruktur digital yang sahamnya kini diperhitungkan.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar