Kembali, kisah hidup Abdurrahman bin Auf mengingatkan kita tentang arti sebenarnya dari kekayaan. Sosok sahabat Nabi yang satu ini bukan sekadar pedagang ulung. Di balik kesuksesan materinya, justru ada kegelisahan yang mendalam takut jika harta dunia malah menjadi penghalang di akhirat nanti. Ustaz Das'ad Latif menguraikannya dengan cukup menarik.
Semuanya berawal dari hijrah. Saat meninggalkan Makkah dan tiba di Madinah, Abdurrahman disambut dengan tangan terbuka oleh kaum Anshar. Mereka tak segan menawarkan rumah bahkan harta. Tapi, pria ini punya prinsip. Daripada menerima pemberian, ia lebih memilih ditunjukkan jalan ke pasar. Itulah modal awalnya.
Dari sana, kerja kerasnya membuahkan hasil yang luar biasa. Usaha kecilnya pelan-pelan berkembang, hingga akhirnya namanya dikenal sebagai salah satu saudagar paling sukses di zamannya. Namun, kemewahan itu tidak serta-merta membuatnya lupa diri.
Ada satu momen yang cukup menyentuh. Konon, di suatu kesempatan, saat hendak menyantap hidangan lezat di depannya, tiba-tiba air matanya berlinang. Pikirannya melayang kepada Rasulullah SAW, yang dulu kerap menahan lapar berjam-jam karena tak ada sesuap pun makanan. Bayangan itu begitu menghantuinya.
Rasa empati dan kekhawatiran akan fitnah harta itulah yang kemudian mendorongnya bertindak nyata. Dalam sebuah aksi sosial yang spektakuler, Abdurrahman menyedekahkan hampir seluruh kekayaannya. Bayangkan saja: sekitar 700 ekor unta beserta segala muatannya, ia bagikan untuk penduduk Madinah. Jumlah yang fantastis.
Saat orang-orang bertanya, untuk apa semua itu, jawabannya sederhana namun dalam.
"Saya tidak mau kemewahan dunia ini menguasai hati saya sehingga saya melupakan kehidupan akhirat. Saya tidak mau semua harta inilah yang Allah kasih sehingga saya tidak punya apa-apa nanti di akhirat,"
Begitulah kira-kira tutur Ustaz Das'ad Latif mengutip perkataannya. Bagi Abdurrahman, bersedekah bukan sekadar memberi. Itu adalah cara ia 'menitipkan' harta, agar kelak bisa dipetik kembali di kehidupan yang abadi.
Nah, kisah klasik ini sebenarnya adalah cermin untuk kita semua. Harta dan kesenangan duniawi memang menggiurkan. Tapi, yang terpenting adalah bagaimana kita mengelolanya bukan untuk terlena, melainkan justru untuk jadi jalan berbuat baik. Dengan begitu, apa yang kita miliki bisa membawa manfaat sekarang, dan menjadi bekal nanti.
Artikel Terkait
DPR Sepakat Bawa RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga ke Rapat Paripurna
Gempa 7,4 SR Guncang Iwate, KBRI Tokyo Pantau Kondisi WNI
Mantan Kadis LH DKI Ditahan sebagai Tersangka Kasus Longsor TPA Bantargebang
OLX Gelar Job Fair Online 2026, Sediakan 1.300 Lowongan di Tengah Persaingan 1:12