Lewat unggahan di Instagram Stories-nya, Mandy Moore mengaku sedang merasakan campur aduk perasaan. Penyanyi dan aktris Amerika Serikat itu baru saja mendapat konfirmasi dari dokter kandungannya bahwa ia tak akan hamil lagi. Di satu sisi, ia bersyukur. Di sisi lain, ada sedikit kesedihan yang mengendap.
"Aku sedang di dokter kandungan untuk pemeriksaan..." tulis bintang film A Walk to Remember itu. "Aku sangat bersyukur atas keluargaku yang indah DAN ada sedikit kesedihan karena aku sudah selesai punya bayi dan tidak akan hamil lagi."
Moore, yang kini berusia 41 tahun, telah menjadi ibu dari tiga anak. Bersama suaminya, Taylor Goldsmith, ia mengasuh Gus (4), Ozzie (3), dan si bungsu, Lou, yang baru berusia 16 bulan.
Perjalanan menjadi ibu ketiganya ini punya cerita sendiri. Ia melahirkan putri kecilnya, Louise "Lou" Everett, di September 2024 silam. Saat itu, usianya genap 40 tahun.
Menanggapi pertanyaan soal hamil di usia yang kerap disebut 'tidak muda lagi', Moore punya pandangan yang cukup jelas.
"Saya merasa memiliki anak ketiga di usia 40 tahun, istilah 'kehamilan geriatrik' yang sering dilontarkan. Saya pikir setidaknya menurut pengalaman saya, banyak teman saya memiliki anak di usia yang lebih tua, entah itu karena pilihan, keadaan, atau faktor biologis," jelasnya.
Bagi Moore, istilah-istilah seperti itu sudah ketinggalan zaman. Ia merasa perdebatan seputar usia ideal untuk hamil seharusnya tak perlu terjadi.
"Saya rasa hal yang paling membuat saya kesulitan adalah sistem ini secara umum memperlakukan kami [hamil di usia tidak mudah lagi -red] sebagai anomali," ungkap Moore. "Seolah-olah kami terlalu tua, terlalu rumit, atau berisiko tinggi, padahal sebenarnya, 'Tidak, kami hanyalah manusia biasa'."
Perasaan syukur sebagai seorang ibu ia tuangkan dengan indah pada Mei 2025 lalu. Saat merayakan Hari Ibu pertamanya dengan status ibu tiga anak, ia membagikan serangkaian foto di Instagram disertai pesan yang hangat.
“Menjadi seorang ibu adalah anugerah terbesar dalam hidupku. Meski tak pernah lepas dari rasa khawatir, stres, atau perencanaan yang tiada henti, kebahagiaan yang tenang dan tak terbantahkan mampu mengalahkan segalanya,” tulisnya.
“Aku sangat bersyukur atas kehadiran para ibu dalam hidupku yang menjadi teladan, mau mendengarkan, memberi nasihat terbaik, dan pada akhirnya membuatku merasa tidak terlalu sendirian dalam menjalani perjalanan ini.”
Mengarungi Kehamilan di Usia 40-an: Apa yang Harus Diperhatikan?
Memang, tak bisa dimungkiri bahwa hamil di atas usia 40 tahun punya tantangan tersendiri. Risikonya secara medis dikategorikan lebih tinggi, baik untuk sang ibu maupun bayi dalam kandungan. Tapi jangan langsung pesimis. Berkat kemajuan teknologi di bidang kesuburan dan kesehatan maternal, kehamilan yang aman di usia ini sangat mungkin diwujudkan.
Salah satu hal yang perlu diwaspadai adalah terkait kualitas kromosom. Di usia yang lebih matang, kualitas kromosom ibu tak lagi seprima dulu. Kondisi ini meningkatkan kemungkinan anak mengalami kelainan kromosom, seperti Down Syndrome. Angkanya cukup signifikan: di usia 40 tahun, peluangnya sekitar 1 dari 100 kehamilan. Naik drastis menjadi 1 dari 30 kehamilan saat ibu berusia 45 tahun.
Risiko lainnya juga patut dicermati. Mulai dari preeklamsia, diabetes gestasional, kelahiran prematur, hingga gangguan pada plasenta. Kemungkinan keguguran dan bayi lahir mati (stillbirth) juga lebih tinggi.
Namun begitu, dengan perencanaan dan perawatan yang tepat, kehamilan sehat tetap bisa dijalani. Kuncinya adalah kesadaran dan disiplin. Beberapa langkah ini bisa jadi panduan:
- Jangan tunda untuk melakukan tes genetik sejak awal kehamilan.
- Rutin memeriksakan diri ke dokter, dimulai dari trimester pertama.
- Perhatikan asupan nutrisi. Pola makan harus seimbang.
- Konsumsi vitamin pranatal, terutama yang mengandung asam folat.
- Istirahat yang cukup. Hindari sama sekali rokok dan minuman beralkohol.
- Lakukan olahraga ringan yang aman untuk ibu hamil.
Intinya, meski ada tantangan ekstra, menjadi orang tua di usia yang lebih matang bukanlah hal yang mustahil. Persiapan ekstra dan pemantauan ketat adalah kunci utamanya.
Artikel Terkait
Sunan Kalijaga Mundur sebagai Kuasa Hukum, Erin Taulany Tunjuk Pengacara Baru
Dewi Perssik Ikhlas Berkurban di Tengah Kelelahan Usai Syuting Hingga Subuh
Universitas Oxford Kembangkan Vaksin Khusus untuk Lawan Varian Langka Ebola yang Mewabah di Kongo
Menkes: Protein Daging Kurban Setara dengan Whey Protein, Baik untuk Pembentukan Otot