Prabowo Dapat Dukungan Negara Islam untuk Mediasi AS-Iran

- Jumat, 06 Maret 2026 | 03:15 WIB
Prabowo Dapat Dukungan Negara Islam untuk Mediasi AS-Iran

Di Jakarta, Kamis malam lalu, ada kabar baru soal upaya diplomasi Indonesia. Presiden Prabowo Subianto dikabarkan mendapat angin positif dari sejumlah negara, terutama dari kawasan Timur Tengah dan negara-negara Islam, terkait rencana Indonesia jadi penengah antara Amerika Serikat dan Iran. Ini bukan hal sepele, mengingat ketegangan antara kedua negara itu sudah berlangsung lama dan punya dampak global.

Nusron Wahid, Menteri ATR/BPN, yang memberikan keterangan ini di sekitar Istana Kepresidenan. Menurutnya, intinya Pak Prabowo ingin ada ruang pertemuan buat AS dan Iran. “Prinsipnya Bapak Presiden menginginkan adanya pertemuan dengan Amerika Serikat dengan Iran untuk menjadi mediasi dan Iran membuka diri,” ujar Nusron.

Jadi, ide dasarnya adalah mendorong penyelesaian lewat jalur perundingan, bukan konfrontasi. Dan rupanya, langkah ini disambut baik oleh beberapa pemimpin negara lain.

Nusron menyebut secara spesifik dukungan datang dari Pakistan dan Uni Emirat Arab. Namun begitu, ia menegaskan bahwa penjelasan detail soal mekanisme diplomasi ini adalah wewenang penuh Kementerian Luar Negeri. “Tentunya ini menjadi wilayahnya Bapak Menteri Luar Negeri yang berhak untuk menjelaskan. Tetapi tadi dijelaskan upaya Bapak Presiden mendapatkan support dari negara-negara pemimpin-pemimpin negara di Timur Tengah lainnya,” terangnya.

Ada satu poin menarik lagi yang diungkapkan. Ternyata, inisiatif perdamaian ini juga digulirkan dalam forum kelompok delapan negara atau D-8. Presiden Prabowo bersama tujuh pemimpin negara lainnya dalam kelompok itu disebut punya visi yang sama: mencegah eskalasi.

“Pak Presiden bersama tujuh pemimpin negara yang tergabung dalam kelompok 8 itu, menginginkan adanya perdamaian. Jangan sampai perang berlarut-larut terutama di Iran maupun di kawasan Teluk dan sebagainya,” imbuh Nusron.

Kekhawatiran mereka jelas. Konflik yang berkepanjangan, apalagi di kawasan strategis seperti Teluk, hanya akan memicu ketegangan yang lebih luas dan merugikan banyak pihak. Upaya Indonesia ini, meski belum jelas detailnya, setidaknya menunjukkan adanya keinginan untuk tak cuma jadi penonton dalam gejolak geopolitik dunia.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar