Firman paham zamannya sudah berubah. Ia tak membantah bahwa sekarang orang lebih suka baca berita lewat "handphone". “Iya, ngerti. Kalau orang biasa main "handphone", ya "handphone". Kalau ada yang biasa baca koran ya koran,” katanya lugas.
Tapi baginya, koran ini sudah jadi bagian hidup. Sebuah kebiasaan, dan cara bertahan. “Ya, setiap hari lah jalan kaki. Namanya jualan, kan, perjuangan,” ujarnya.
Tanya soal penghasilan? Ia malah bercanda. “Kalau penghasilan saya nggak bisa bilang sekian-sekian. Ibu bisa nebak sendiri lah penghasilan saya bagaimana, nanti kalau saya bilang sekian ah ngebohong.”
Beralih profesi? Rasanya tak terpikir. “Bukan masalah profesi itu, ya. Namanya orang udah keenakan. Kita jalanin aja apa adanya, bu. Itu kan menikmati yang penting.”
Menjelang ashar, ia bersiap pulang ke Parung Panjang, Bogor Barat. “Asar pulang. Waktunya ya pulang,” katanya pendek.
Di usianya yang senja, ia sudah merasakan segalanya. “Dari manis sampe pahit kan, biasanya manis lagi, pahit lagi, kan udah ngerasainlah namanya di jalanan. Suka dukanya sudah biasa gitu.”
Ia sadar masa depan media cetak makin suram, terutama di kawasan Menteng. “Di Menteng ini sudah kurang, ibu. Kecuali di pinggiran.”
Namun begitu, ia bertahan. Bukan karena tak tahu arah angin, tapi karena ia sudah terlalu lama hidup bersama koran dan rutinitas ini.
“Zaman dulu kan kita itungannya koran, nunggu berita hari ini, besok baru masuk. Kalau sekarang hitungan detik sudah masuk berita,” ujarnya.
“Yang penting sabar aja. Namanya usaha, ya kan.”
Di tengah banjir digital yang menderas, Firman masih setia di perempatan itu. Lembaran koran yang ia jual bukan cuma memuat kabar. Tapi juga kisah tentang ketekunan, kesabaran, dan kesetiaan pada sebuah profesi yang perlahan tapi pasti, terus tergerus zaman.
Artikel Terkait
Mantan Wamenaker Noel Gerungan Diadili, Terima Gratifikasi Rp3,3 Miliar dan Motor Ducati
Cosplay Cokelat Saylviee: Dari Basis Penggemar ke Ledakan Viral di TikTok
Dua Partai Baru Menggebrak, Panggung Politik 2026 Makai Panas
Wamensos Soroti Transformasi Siswa Sekolah Rakyat: Dari Malu-malu ke Berani Tampil di Depan Presiden