Pesan itu, kata Amien, ia sampaikan pula kepada para aktivis dan intelektual yang gigih mengungkap berbagai persoalan kebenaran hari ini.
Natsir juga pernah berpesan bahwa untuk mengenal seorang teman kadang butuh waktu tiga sampai lima tahun. “Mungkin sekali ada teman kita ibaratnya suka menggunting dalam lipatan atau juga seperti musang berbulu ayam,” jelas Amien.
Dari Yogyakarta, Amien mengaku terus mendoakan para pejuang itu.
Ia juga mengingatkan tuntunan Al-Qur'an, khususnya Surat Al-Ankabut ayat 69, yang selalu dipajang di ruang tamu Natsir dulu. Ayat itu, katanya, menjadi pengingat untuk tetap optimis.
Menurut Amien, ada dua warisan Natsir yang perlu disegarkan kembali. Pertama, Mosi Integral 1950 yang membubarkan Republik Indonesia Serikat (RIS) dan mengembalikan Indonesia ke bentuk negara kesatuan.
Kedua, adalah peran internasional Natsir di dunia Islam, sebagai Wakil Ketua Muktamar ‘Alam Islami yang berpusat di Makkah. “Sampai sekarang di abad XXI, belum ada sosok pemimpin Indonesia setelah Pak Natsir yang menduduki posisi strategis seperti itu,” ujarnya.
Amien juga menceritakan kearifan Natsir yang tak mendendam. Di awal 1980-an, Letjen Ali Murtopo orang dekat Soeharto menghubungi Natsir yang saat itu masih berstatus tahanan rumah. Pemerintah butuh rekomendasinya untuk mengajukan pinjaman ke Islamic Development Bank di Jeddah.
Kenangan manis lainnya adalah ketika Amien dan sahabatnya, Dr. Ahmad Watik Pratiknya, mengundang Natsir untuk berceramah di Gelanggang Mahasiswa UGM. Saat itu UGM belum punya masjid kampus.
Nuim Hidayat
Artikel Terkait
Dua Partai Baru Menggebrak, Panggung Politik 2026 Makai Panas
Wamensos Soroti Transformasi Siswa Sekolah Rakyat: Dari Malu-malu ke Berani Tampil di Depan Presiden
Korban Wedding Organizer Tembus 277 Orang, Kerugian Sementara Rp18,4 Miliar
Malapetaka Api di Karachi: 14 Tewas, 60 Hilang, dan Reruntuhan yang Masih Menyimpan Duka