Dubes Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Terbuka, Hanya Berlakukan Protokol Khusus

- Jumat, 06 Maret 2026 | 05:45 WIB
Dubes Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Terbuka, Hanya Berlakukan Protokol Khusus

Di tengah ketegangan yang memuncak di Timur Tengah, Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, tampil dengan pernyataan yang ingin menenangkan. Ia menegaskan bahwa Selat Hormuz jalur air yang sangat vital itu tidak ditutup. "Selat Hormuz tidak ditutup," ujarnya dengan tegas. "Selat Hormuz tetap terbuka, dan kami hanya sebagai pihak yang menyelenggarakan keamanan."

Pernyataan itu disampaikan Boroujerdi di kediamannya di Jakarta, Kamis lalu. Menurutnya, yang berlaku hanyalah protokol keamanan khusus, semacam aturan lalu lintas yang biasa diberlakukan dalam situasi perang. Ia berargumen, kapal-kapal yang bersedia mematuhi protokol itu tak akan menemui kesulitan.

"Di selat ini hanya diberlakukan protokol lalu lintas yang khusus untuk saat-saat perang," jelasnya. "Pihak-pihak yang mematuhi protokol tersebut bisa dengan mudah melewati Selat Hormuz."

Boroujerdi lantas menekankan peran historis Iran. Katanya, negaranya telah menjadi penjaga stabilitas di selat itu selama ratusan tahun. Keamanan yang disebarluaskan itu, lanjutnya, harus berlaku untuk semua pihak tanpa kecuali. Tidak boleh ada negara yang mengambil keuntungan sepihak.

Namun begitu, sang Duta Besar tak menyembunyikan siapa yang dianggapnya sebagai biang kerok. Sumber ketegangan dan kekhawatiran, menurutnya, justru datang dari kehadiran Amerika Serikat di kawasan.

"Yang khawatir berkaitan dengan penutupan Selat Hormuz harus menanyakan kepada Amerika Serikat," tandas Boroujerdi. "Mereka yang datang dari jauh ke Timur Tengah dan kemudian mengganggu keamanan."

Latar belakang pernyataan ini tentu saja panas. Sepekan sebelumnya, Korps Garda Revolusi Iran sempat mengancam akan menutup selat itu. Itu adalah respons atas serangan gabungan AS dan Israel yang mengguncang Teheran pada akhir Februari, sebuah serangan yang disebut-sebut menewaskan sejumlah tokoh penting, termasuk pemimpin tertinggi mereka.

Gelombang ketegangan ini ternyata sampai juga ke Indonesia. Dampaknya langsung terasa: dua kapal tanker milik Pertamina International Shipping (PIS) dilaporkan tertahan di sekitar Teluk Persia. Keduanya adalah Pertamina Pride dan Gamsunoro, yang sedang dalam proses pengisian minyak di Arab Saudi dan Irak.

Merespons hal ini, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengaku pemerintah sedang berupaya keras. "Ada dua kapal kargo Pertamina yang tertahan di Selat Hormuz," kata Bahlil, Rabu malam. "Kapal-kapal tersebut saat ini berlabuh di lokasi yang lebih aman sambil menunggu proses negosiasi."

Jadi, di satu sisi ada jaminan bahwa selat itu masih terbuka dengan syarat. Di sisi lain, realitas di lapangan menunjukkan bahwa kapal-kapal bisa saja terjebak, menunggu kepastian di tengah air yang tak lagi tenang.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar