Amien Rais. Namanya tak asing di panggung politik Indonesia. Tokoh Islam ini bukan cuma mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, tapi juga salah satu penggerak utama yang mendorong lengsernya Presiden Soeharto di tahun 1998. Karir politiknya panjang: pernah memimpin MPR RI, juga memegang tampuk ketua umum Partai Amanat Nasional (PAN). Kini, di usianya yang tak lagi muda, ia masih aktif sebagai Ketua Majelis Syura Partai Ummat.
Di luar rutinitas politik, Pak Amien begitu ia biasa disapa rutin mengisi pengajian di berbagai komunitas. Tapi belakangan, ia lebih sering muncul lewat podcast. Analisa-analisa politiknya yang tajam selalu ditunggu. Ribuan orang menyimak setiap kali ia berbicara.
Dalam salah satu siarannya baru-baru ini, ia bercerita tentang sosok yang sangat dikaguminya: Mohammad Natsir. Menurut Amien, di tengah carut-marut politik nasional yang kita alami sekarang, ada baiknya kita merenungkan kembali pemikiran sang pahlawan nasional itu.
Dia menambahkan, ada satu dimensi lagi yang langka: Natsir adalah pemimpin yang tak pernah tergiur oleh gemerlap dunia sampai akhir hayatnya.
Lahir di Alahan Panjang, Sumatera Barat, pada 17 Juli 1908, Natsir wafat pada 1993. Namun kisah ketulusannya seakan jadi dongeng di zaman sekarang.
Amien lalu berbagi pengalaman pribadi. Tahun 1970, ia diutus Muhammadiyah ke Banjarmasin untuk ceramah di depan Angkatan Muda Muhammadiyah. Di sana, ia bertemu dengan Gus Muis, sahabat dekat Natsir dari masa Partai Masyumi.
Gus Muis bercerita, suatu ketika ia kehabisan bekal di Jakarta dan menemui Natsir yang saat itu sudah menjadi Perdana Menteri untuk meminjam uang beli tiket pulang.
Bagi Amien, kisah semacam itu kini terdengar seperti dongeng belaka.
Di tahun yang sama, 1970, Amien bersama beberapa rekan seperti almarhum Endang Saifuddin Anshari bersilaturahmi ke kediaman Natsir di Kramat Raya, Jakarta. Di sana, Natsir berpesan tentang perjuangan.
Artikel Terkait
Dua Partai Baru Menggebrak, Panggung Politik 2026 Makai Panas
Wamensos Soroti Transformasi Siswa Sekolah Rakyat: Dari Malu-malu ke Berani Tampil di Depan Presiden
Korban Wedding Organizer Tembus 277 Orang, Kerugian Sementara Rp18,4 Miliar
Malapetaka Api di Karachi: 14 Tewas, 60 Hilang, dan Reruntuhan yang Masih Menyimpan Duka