Di gedung DPR, Senin lalu, suasana cukup ramai. Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad sempat ditanya soal satu wacana yang kerap muncul: bagaimana kalau Pemilu kita pakai e-voting saja? Tanggapannya, menurut Dasco, ide itu memang layak untuk dikaji lebih dalam.
“Segala sesuatu yang baik untuk pemilu tentu akan kita bicarakan,” ujarnya.
“Kita kan sedang menuju ke arah teknologi yang lebih maju. Kalau pakai e-voting, potensi penghematan dana penyelenggaraan itu besar sekali.”
Namun begitu, dia tak lantas gegabah. Dasco menekankan, perlu banyak kajian dan studi mendalam dulu sebelum memutuskan sesuatu. Soalnya, meski sudah diterapkan di banyak negara, e-voting bukan tanpa cerita. Ada masalah yang kerap mengintai, misalnya soal rekayasa hasil.
“Di negara lain, ada saja yang kreatif,” katanya sambil tertawa ringan.
“Pakai sistem e-voting, tapi dalam hitungan jam hasilnya bisa berubah-ubah. Nah, ini yang harus kita pelajari betul. Bagaimana kalau diterapkan di Indonesia?”
Di sisi lain, dia tak menampik bahwa opsi ini punya daya tarik kuat. Terutama dari segi efisiensi anggaran. Tapi, satu hal yang menurutnya tak boleh ketinggalan adalah soal keamanan teknologi itu sendiri. Itu poin krusial.
“Itu satu hal yang bagus. Tapi pengamanan teknologinya juga perlu dikaji. Semua nanti akan kita kaji,” tandas Dasco, mengakhiri pembicaraan.
Jadi, meski dianggap bisa menghemat banyak hal, jalan menuju e-voting di Indonesia masih panjang. Butuh persiapan matang, terutama agar kepercayaan publik tetap terjaga.
Artikel Terkait
Pembentukan ‘Wilayah Tengah’ di Libya Picu Gelombang Penolakan dan Kekhawatiran Disintegrasi
Presiden Panggil Chatib Basri ke Istana, Istana Bantah Terkait Isu Reshuffle Menkeu
Presiden Prabowo Resmikan RSUD KH Muhammad Thohir di Lampung, Target Renovasi 400 RS dan 10 Ribu Puskesmas
Dua Mahasiswi UPN Veteran Jatim Terjebak 30 Menit di Lift Akibat Listrik Padam