Kilang Balikpapan dan Klaim Penghematan Rp 60 Triliun: Antara Optimisme dan Keraguan

- Senin, 19 Januari 2026 | 12:50 WIB
Kilang Balikpapan dan Klaim Penghematan Rp 60 Triliun: Antara Optimisme dan Keraguan

Yusri juga menyoroti hal lain yang tak kalah pelik. Dia heran, bagaimana mungkin PT Kilang Pertamina International bisa mencatat kerugian fantastis, mencapai USD 2,3 miliar di 2024 dan sekitar USD 1,7 miliar setahun setelahnya. "Ini harus dijelaskan," tegasnya.

Lalu, bagaimana dengan klaim penghematan Rp 60 triliun? Yusri meragukan hitungan itu. Menurutnya, masalah mendasar industri hulu migas kita adalah defisit. Lifting minyak mentah dalam negeri hanya sekitar 600 ribu barel per hari, sementara konsumsi BBM diklaim mencapai 1,6 juta barel. Celah sejuta barel itulah yang masih harus ditutup dengan impor, baik berupa minyak mentah maupun BBM jadi.

Dengan kata lain, meski RDMP Balikpapan berjalan mulus dan impor BBM turun, ketergantungan pada impor minyak mentah justru bisa naik. Hemat di satu sisi, tapi boros di sisi lain.

Di sisi lain, Bahlil dalam pidatonya bersikukuh pada angka penghematan fantastis tersebut. Ia menjelaskan, peningkatan kapasitas kilang dari 260 ribu menjadi 360 ribu barel per hari berkat fasilitas CDU dan RFCC yang menjadi dasar perhitungannya. Peningkatan kapasitas produksi solar dan bensin itulah, harapannya, yang akan membebaskan Indonesia dari impor.

Menteri itu juga merinci soal optimasi produksi bensin beroktan tinggi. Menurutnya, produksi Pertalite (RON 90) bisa naik signifikan, sementara kebutuhan untuk bensin RON 92, 95, dan 98 bisa ditekan hingga 3,6 juta kiloliter per tahun.

"Ke depan, dengan penerapan E10, kita bisa hemat impor hampir 4 juta kiloliter per tahun. Pengembangan kilang selanjutnya bahkan bisa menghentikan impor untuk bensin RON 92 ke atas, dan mengurangi ketergantungan pada RON 90,"

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia

Jadi, di satu sisi ada optimisme resmi yang penuh angka dan target. Di sisi lain, ada keraguan dan pertanyaan kritis yang menuntut kejelasan data dan transparansi. Narasi mana yang lebih mendekati realitas? Waktu yang akan menjawabnya. Namun, satu hal yang pasti: debat publik seperti ini sehat adanya, agar janji-janji besar tak sekadar menggantung di awang-awang, tetapi benar-benar berpijak di tanah.


Halaman:

Komentar