Pengaruh Budaya Gurun: Sebuah Catatan
✍🏻 Arif Wibowo
Ada satu ironi yang cukup menggelitik. Kaum yang sering disebut ‘Rahayu’ ini gemar sekali membenturkan Islam dengan budaya Jawa. Mereka mengklaim diri sebagai pemilik sah kebudayaan lokal, menjunjung tinggi kejayaan Majapahit, dan menolak apa yang mereka sebut ‘budaya gurun’ alias Islam. Tapi, coba lihat penampilan mereka. Justru mengenakan busana Mataram Islam, seperti beskap dan blangkon. Lucu, bukan?
Di sisi lain, kaum perempuan dari kelompok ini kerap mempertentangkan kebaya dengan jilbab. Padahal, kalau mau jujur, kedua mode busana itu baik beskap maupun kebaya baru populer dan berkembang pesat justru saat masyarakat Jawa sudah memeluk Islam. Jadi, klaim ‘keaslian’ yang mereka gembar-gemborkan itu sendiri patut dipertanyakan.
Lalu, ada lagi istilah ‘kapitayan’. Konsep ini dipopulerkan oleh Kyai Agus Sunyoto, seorang kiai NU yang aktif di Lesbumi. Beliau menelusuri jejak linguistik di masyarakat untuk menggambarkan konsepsi Tuhan dalam tradisi Jawa. Nah, istilah ini kemudian diambil alih dan diklaim sebagai bentuk religi asli Jawa pra-Islam. Dan lagi-lagi, dijadikan alat untuk menyerang Islam.
Menelusuri sejarah budaya lama itu sah-sah saja. Tapi, ketika kemudian berubah jadi klaim superioritas menganggap diri paling asli dan menyebut yang lain sebagai pendatang perusak ya, itu namanya sudah kebablasan. Klaim semacam itu harus diuji kebenarannya.
Ambil contoh soal busana. Kalau kita merujuk pada relief Karmawibhangga di kaki Candi Borobudur, gambaran masyarakat Jawa kuno abad ke-8 dan 9 Masehi ternyata sangat berbeda. Cara berpakaian mereka sederhana: hanya menutup tubuh dari pusar ke bawah. Atasan? Nyaris tidak ada.
Artikel Terkait
SP3 Ijazah Palsu Dikritik: Cacat Hukum hingga Langgar Aturan Internal Polri
Cek Kesehatan Gratis Buka Borok: Hanya 3% Penderita Hipertensi yang Tekanannya Terkendali
Di Balik Keramaian Braga, Langkah Tegar Nenek Emi dan Plastik Tisunya
Mahasiswi UB Terluka Parah Usai Lompat dari Jembatan Suhat Malang