Baik rakyat biasa maupun bangsawan, laki-laki maupun perempuan, saat itu masih telanjang dada. Perbedaannya cuma terletak pada penutup kepala dan perhiasan yang dikenakan. Relief nomor 37A menggambarkan keluarga raja dengan para hambanya. Lalu, 39A menampilkan penari kayangan. Sementara di 40A, terlihat sepasang bangsawan dengan istrinya. Semuanya memperlihatkan gaya berbusana yang sama: tanpa atasan.
Hal menarik terjadi ketika saya mencoba memvisualisasikan relief tersebut dengan bantuan AI. Hasilnya? Sang robot tidak mereproduksi gambar secara harfiah. Ia justru memodifikasinya dengan standar kesopanan masa kini dengan menambahkan kain penutup dada. Ini menunjukkan betapa norma telah berubah.
Di sinilah peran Islam dalam membentuk budaya Jawa yang baru menjadi sangat signifikan. Agama ini memperkenalkan dan menetapkan standar norma berpakaian yang lebih tertutup dalam masyarakat. Itu sebuah transformasi.
Maka, wajar saja ketika jilbab kemudian diperkenalkan, banyak dari masyarakat Jawa yang menyambutnya. Ini bukan soal arabisasi. Ini lebih merupakan proses alamiah dari sebuah masyarakat yang mayoritasnya kini memeluk Islam. Sebuah evolusi budaya, bukan pemaksaan.
Jadi, pesan saya untuk kaum ‘Rahayu’ yang sering nyinyir terhadap Islam: cobalah lebih jujur dalam menarasikan sejarah. Jangan sampai kalian justru mengonsumsi dan memakai produk dari budaya Muslim Jawa, tapi di saat yang sama menyemburkan kebencian pada Islam itu sendiri.
Kalau memang tidak paham, lebih baik diam daripada memamerkan kebodohan.
Referensi: Busana Jawa Kuna karya Inda Citrandini Noerhadi.
Artikel Terkait
SP3 Ijazah Palsu Dikritik: Cacat Hukum hingga Langgar Aturan Internal Polri
Cek Kesehatan Gratis Buka Borok: Hanya 3% Penderita Hipertensi yang Tekanannya Terkendali
Di Balik Keramaian Braga, Langkah Tegar Nenek Emi dan Plastik Tisunya
Mahasiswi UB Terluka Parah Usai Lompat dari Jembatan Suhat Malang