Raffi Ahmad dan Bisnis Hiburan: Wajah Bersih untuk Uang Bermasalah?

- Senin, 19 Januari 2026 | 11:00 WIB
Raffi Ahmad dan Bisnis Hiburan: Wajah Bersih untuk Uang Bermasalah?

Begitu nama RANS nempel, proyek itu langsung naik kelas. Keliatan modern, kekinian, dan baik-baik. Padahal, sumber modalnya bisa jadi dari sektor yang bau tanah rusak. Ini bukan tuduhan pidana, ya. Cuma pola yang udah dipakai di mana-mana.

Contoh lain ya PIK 2. Kawasan reklamasi yang kontroversial itu. Di sana ada RANS Carnaval City Zoo. Fungsinya nggak cuma jual tiket. Lebih dari itu: menormalkan kawasan bermasalah lewat hiburan keluarga. Begitu orang datang bawa anak, ketawa, upload story, isu reklamasi dan nelayan yang tergusur pelan-pelan tenggelam di balik balon dan maskot.

Atau lihat pola pengumpulan tanah: puluhan bidang di Bandung Barat dan Bali. Ini namanya land banking. Nguasai lahan di daerah resapan air atau sawah produktif, trus nunggu harganya melambung. Cara klasik ubah uang jadi kekuasaan atas ruang hidup orang lain. Sah? Iya. Tapi dampaknya? Itu cerita lain.

Yang menarik, ada juga pola proyek yang cuma hidup sebentar. Kayak RANS Nusantara Hebat di BSD. Secara bisnis keliatannya gagal. Tapi dalam logika properti, proyek macam gini sering cuma buat ngangkat harga tanah di sekitarnya. Untungnya bukan dari jualan, tapi dari kenaikan nilai aset.

Nah, sekarang coba kita tarik semuanya ke satu pertanyaan sederhana:

Kenapa sih bisnis hiburan, kebun binatang, beach club, dan klub bola selalu jadi favorit duit besar?

Jawabannya gampang. Karena nilainya lentur, biayanya gampang diatur, dan ceritanya bisa dibikin menarik. Kalau lo punya duit dari sumber yang rawan ditanya, lo nggak akan masukin ke pabrik. Lo masukin ke bisnis yang bikin orang senang tanpa mikir panjang.

Di titik ini, gue ulang lagi: ini bukan soal Raffi Ahmad sebagai pribadi. Ini soal fungsi yang dia jalankan dalam sistem. Dalam dokumen yang gue baca, posisinya bahkan disebut bukan "Godfather", tapi jembatan emas. Penghubung antara modal keras, proyek bermasalah, dan publik yang haus hiburan.

Jadi pertanyaannya bukan, "Dia artis baik atau nggak?"

Pertanyaannya lebih dalam:

Kenapa sistem ekonomi kita malah bikin figur populer jadi alat paling ampuh buat menyamarkan uang dan proyek yang bermasalah?

Dan itu pertanyaan yang jauh lebih seram daripada sekadar gosip artis.

(fb)


Halaman:

Komentar